1. A. Pimpinan Puncak membangun proses pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan dengan mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah sesuai dengan tingkatan manajemen yang ada.
B. Bahwa semua masalah ditetapkan oleh pimpinan puncak dengan pola pikir memecahkan masalah dengan melibatkan proses pengambilan keputusan dari bawah.
2. A. Masalah yang komplek dan rumit sedang dihadapi, pimpinan semua tingkatan merasakan keputusan harus diambil dalam memecahkan persoalan, asalkan keputusan diambil berdasarkan keputus-an bersama dengan landasan menghindari masalah.
B. Masalah yang komplek dan rumit sedang dihadapi, pimpinan semua tingkatan merasakan keputusan harus diambil dengan mengikut sertakan bawahan dengan memecahkan masalah.
3. A. Semua tingkatan pimpinan bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang ada, mereka memberikan dukungan supervisi dengan rasa berkawan, menaruh perhatian, mau mendengar sebagai suatu pendekatan dalam memecahkan masalah untuk me-ningkatkan kinerja.
B. Semua tingkatan pimpinan bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang ada dalam melaksanakan supervisi bila diminta atau timbulnya masalah.
4. A. Kebanyakan para manajer bertindak dan berperilaku sesuai norma-norma tertulis dalam mengelola aktivitas mereka.
B. Kebanyakan para manajer bertindak dan berperilaku dalam proses pengambilan keputusan dengan meminta pendapat dari bawahan terhadap hal-hal yang bersifat strategis.
5. A. Pimpinan puncak bertindak dan berperilaku mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah atas kemampuan sendiri dan meminta bawahannya untuk memecahkan masalahnya.
B. Pimpinan puncak bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang ada ditangannya dalam semua kegiatan.
6. A. Semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki tetapi memiliki wawasan dalam kegiatannya sesuai dengan tuntutan perubahan.
B. Semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki untuk memecahkan setiap masalah yang timbul baru bertindak.
7. A. Pimpinan puncak memberikan kebesan atau melimpahkan wewenangnya kepada bawahan yang memiliki kompetensi untuk merumuskan dan mencapai atas misi yang telah ditetapkan.
B. Pimpinan puncak memberikan kebebasan atau melimpahkan wewenang kepada semua pimpinan menengah dan bawah dalam setiap masalah operasional yang dihadapi.
8. A. Pimpinan menengah dan bawah yang menerima pelimpahan wewenang mengambil keputusan untuk setiap masalah yang dihadapinya tanpa mempertimbangkan perubahan lingkungan.
B. Pimpinan semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku tidak berani mengambil keputusan yang diberikan kepadanya.
9. A. Semua tingkatan manajemen konsisten melibatkan bawahan dalam mensupervisi dalam membangun tim, merumus-kan tujuan dan menggariskan fasilitas kerja untuk mewujudkan misi yang terkait dengan pandangan masa depan.
B. Pimpinan puncak dalam bersikap dan berpilaku memperhatikan saran-saran yang diberikan bawahannya lebih menekankan pertimbangan internal semata.
10. A. Pimpinan pucak dalam mengambil keputusan bersandarkan aturan yang ada, ia terikat dengan kebijakan itu namun keputusan yang diambil bertolak dari suatu pemikiran sebaiknya menghin-dari masalah sebelum terjadi.
B. Semua tingkatan pimpinan dalam melaksanakan kegiatan dengan mempertimbangkan semua saran yang diberikan bawahan dalam setiap penyelesaian masalah yang dihadapi.
11. A. Mereka mengatakan bahwa kemampuan luar biasa untuk menjajaki arah yang dimiliki bersama oleh para manajer yang sukses telah secara meyakinkan membantu hasil jangka panjang dengan aturan-aturan yang ada dalam menangkap situasi masa depan.
B. Pimpinan puncak hanya bersikap dan berperiliku dalam menjalankan masalah-masalah yang mendesak dengan mengikut serta bawahannya.
12. A. Semua tingkatan manajemen bertindak menyelesaikan tugas berdasarkan aturan yang ada dengan memperhatikan faktor internal tanpa mengikuti perkembangan eksternal.
B. Keterlibatan semua pihak dalam menyelesaikan masalah ope-rasional tanpa melihat akibatnya ke masa depan, yang penting jangka pendek terselesaikan.
13. A. Pimpinan puncak dengan kekuasan yang dimilikinya menugaskan para bawahannya untuk bertindak dalam menjalankan tugasnya dengan bersandarkan pertimbangan faktor eksternal dan internal.
B. Pimpinan puncak dengan kekuasaan yang dimilikinya memerintahkan bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menekankan pertimbangan internal yang sangat menentukan.
14. A. Semua tingkatan pimpinan merasakan keberhasilan menggerakkan bawahan menjadi produktif atas tindakan yang mendesak tanpa suatu perencanaan tindakan yang menyeluruh.
B. Semua tingkatan pimpinan merasakan keberhasilan menggerakkan bawahan menjadi produktif sesuai dengan kekuasaan yang dimilikinya.
15. A. Pimpinan semua tingkatan menyerahkan segala sesuatu kepada bawahannya untuk merencanakan cara-cara untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
B. Pimpinan semua tingkatan menyerahkan segala sesuatu kepada bawahannya baik individu maupun kelompok untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan perannya.
16. A. Pimpinan puncak setelah merumuskan perencanaan jangka panjang, selanjutnya menyerahkan kepada bawahan untuk menyelesaikan cara mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
B. Pimpinan puncak setelah merumuskan rencana kerja jangka pendek selanjutnya melimpahkan wewenang untuk menyelesaikan bila masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan operasional.
17. A. Pimpinan puncak mempengaruhi semua tingkatan manajemen dan karyawan bahwa menghindari masalah lebih penting dari memecahkan masalah dalam bersikap dan berperilaku.
B. Pimpinan semua tingkatan merencanakan jangka panjang hanya menekankan masalah-masalah internal.
18. A. Mengelola berdasarkan nilai dituntut adanya kesamaan dalam bersikap dan perperilaku dalam memandang kepentingan stake –holders.
B. Pimpinan puncak dalam menyelesaikan masalah dengan mengikutsertakan bawahan untuk setiap persoalan terjadi.
19. A. Pimpinan semua tingkatan merencanakan keputusan jangka panjang sesuai dengan pedoman yang ada.
B. Pimpinan pada tingkatan menengah dalam melaksanakan tugas sesuai dengan sesuai rencana jangka panjang bila perlu sesuai kebutuhan dalam perubahan.
20. A. Pelaksana hanya menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan, dan pimpinan akan mempersupervisi setiap ada masalah.
B. Memfungsikan kehadiran kelompok yang mampu merespon permintaan kerja yang tidak biasa dengan mempersurvisi mereka.
21. A. Individu dan kelompok disupervisi atasannya dalam memecahkan masalah yang timbul dengan suatu pendekatan kekuasaan yang dimilikinya serta memperhatikanseluruh situasi yang berkembang.
B. Pemimpin melaksanakan kekuasaannya dan menugaskan untuk dilaksanakan menyelesaikan pekerjaan yang mendesak.
22. A. Dalam mensupervisi diperlukan kemampuan yang tinggi, bila tidak dapat menimbulkan persoalan dalam pelaksaan tetapi dapat juga sebaliknya menjadi sangat efektif.
B. Kebanyakan kelompok pemimpin dalam semua tingkatan menjalankan komunikasi satu arah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat operasional.
23. A. Unntuk meningkatkan keefektifan diperlukan kemampuan bawahan yang memiliki tingkat keterampilan sesuai dengan peran yang harus dilakukannya.
B. Mempersupervisi untuk meningkatkan efektivitas kerja sangat ditentukan oleh lingkungan kerja yang dapat menunjang kreativitas individu.
24. A. Pimpinan puncak menetapkan tujuan yang hendak dicapai, selanjutnya melimpahkan wewenang kepada bawahan dengan harapan agar waktu dan sumber daya dapat dilakukan secara optimal.
B. Dengan pelimpahan wewenang kepada bawahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetap, mereka diberikan keleluasan untuk memutuskan cara mencapainya tanpa kontrol yang ketat.
25. A. Kalau anda menyetujui bahwa mengelola berdasarkan budaya dapat meningkatkan keberhasilan perusahaan, mengapa keba-nyakan pimpinan pucak tidak merumuskannya sebagai suatu strategi dalam pengembangan sumber daya manusia.
B. Partisifatip hanya dapat terwujud bila memberikan ruang gerak bagi mereka untuk mendapatkan kepuasan dengan kemajuan peningkatan yang lebih tinggi.
26. A. Pimpinan semua tingkatan manajemen lebih menekankan arti penting keterlibatan dan konsistensi, walaupun memecahkan persoalan yang dihadapi bertolak dari keadaan yang mendadak untuk segera diputuskan.
B. Organisasi seharusnya efektip dalam memenuhi kepentingan pelanggan, walaupun aktivitas digerakkan pada saat adanya ketidak pastian dalam pelaksanaan dengan tetap tidak melepaskan diri dari tanggung jawab.
27. A. Ada pula yang mengatakan budaya perusahaan adalah suatu pola terpadu dari tingkah laku pegawai dalam perusahaan antara lain pemikiran, tindakan, pembicaraan, ritual / upacara dan benda-benda yang diatur bersama dalam menghadapi tantangan dari ketidak pastian.
B. Anda senang melaksanakan aktivitas hari ke hari yang membangun pekerjaan anda berdasarkan aturan yang tidak dirumuskan sebelumnya.
28. A. Peran budaya sebagai intergrasi kedalam dalam arti menyatukan perilaku. Interaksi kedalam organisasi perusahaan akan dipengaruhi faktor-faktor ekstern dan intern dan oleh oleh karena perlu dilola berdasarkan nilai.
B. Departemen anda menerima kerja sama dan bantuan dari departemen lain berdasarkan rencana yang tidak terorganisasi namun dalam praktek adakalanya berjalan efektip.
29. A. Membangun tim supervisi yang memberi semangat dan kejelasan tentang apa yang diharapkan orang atas apa yang dikerjakan anda melalui kekuasaan dengan memperhatikan lingkungan.
B. Seseorang menginginkan pemikiran anda dan orang lain yang berbeda pandangan dengan pemikiran anda tapi dalam praktek diselesaikan dengan kekuasaan.
30. A. Kepuasan individu, kelompok, pimpinan, organisasi dengan kemajuan yang dicapai dan mendapat peluang dimasa depan hanya dilaksanakan berdasarkan kekuasaan untuk setiap persoalan yang dihadapi.
B. Sukses yang sesungguhnya tidak datang dari pernyataan nilai-nilai kami, tetapi dari pelaksanaan nilai-nilai tersebut setiap hari hanya berdasarkan kekuasaan.
31. A. Tiga kekuatan memainkan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan suatu budaya yaitu praktek seleksi, tindakan manajemen puncak dan metode sosialisasi dalam merealisasikan pelimpahan wewenang.
B. Suksesnya suatu pelimpahan wewenang sangat ditentukan oleh peningkatan kreativitas orang yang terkait dengan pekerjaan.
32. A. Pelimpahan wewenang dilakukan secara tertulis ataukah hanya setiap ada persoalan yang dihadapi untuk dilaksanakan oleh anda karena sebagai bawahan.
B. Kepemimpinan dikatakan merupakan faktor penentu membentuk perilaku manajemen, tapi kebayakan pimpinan semua tingkatan sangat sulit merumuskan pelimpahan wewenang.
33. A. Percayakah anda selaku pimpinan pada semua tingkatan dapat memotivasi bawahan karena adanya kejelasan merumuskan fungsi kelompok dapat mempengaruhi kinerja individu atau kelompok.
B. Budaya perusahaan dapat mempunyai dampak yang berarti terhadap kinerja ekonomi jangka panjang.
34. A. Karyawan merasakan baik sebagai individu atau sebagai anggota kelompok merasakan fasilitas kerja yang dirancang sebelumnya terlibat dalam membuat keputusan sehingga membantu menemukan cara yang terbaik dalam melaksanakan pekerjaan.
B. Pengakuan dan respek atas pekerjaan anda yang baik bila pendekatan hanya dilakukan karena pimpinan senang kepada anda.
35. A. Suatu budaya muncul dan berkembang mencerminkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki orang dalam mengimplementasikan.
B. Barang kali yang mendasar orang yang mengikuti norma-narma akan diberi imbalan / ganjar sedangkan yang tidak tidak mendapat perhatian selayaknya.
36. A. Pekerjaan anda akan memungkinkan memberi kesempatan baik untuk mendapat yang lebih tinggi bila diatur dengan jelas untuk dipatuhi.
B. Pemimpin semua tingkatan beranggapan bahwa aturan yang jelas adakalanya sulit diterapkan bila kreteria penilaian kepuasan itu tidak ada.
37. A. Pemimpina semua tingkatan akan mematuhi peraturan yang ada bila pelaksanaannya secara konsisten dilaksanakan secara baik dan aturan itu terbentuk berdasarkan keterlibatan semua pihak dengan mempertimbangkan faktor eksternal yang akan mempengaruhi.
B. Adapula pimpinan berpendapat pelaksanaan norma-norma yang harus dipatuhi bertolak dari pekerjaan tertentu saja.
38. A. Budaya perusahaan yang menghambat kinerja keuangan jangka panjang cukup banyak, budaya-budaya tersebut mudah berkembang bahkan dalam perusahaan yang penuh dengan orang pandai dan berakal sehat, maka tidak penyelesaiannya berdasarkan kekuasaan oleh pimpinan puncak.
B. Walaupun sulit untuk diubah, budaya perusahaan dapat dibuat agar bersifat lebih mengutamakan sikap dan perilaku meningkatkan kinerja.
39. A. Ada perusahaan dengan budaya lemah mampu berkinerja baik, jika teori ini salah, mengapa banyak orang pandai yang menerimanya.
B. Ada usaha untuk mengembangkan budaya yang bertolak dari kebebasan orang berpikir untuk mengembangkan cara penyelesaian masalah tanpa perlu dikendalikan.
40. A. Manajemen puncak dalam perusahaan berusaha untuk mengimplementasikan suatu visi dan misi yang ditetapkan melalui pengelolaan manajemen konflik untuk mewujudkan tujuan dan sa-saran.
B. Pimpinan semua tingkatan manajemen berkeyakinan struktur, sistem, rencana, kebijakan formal dapat diimplemtasikan secara baik bila didukung adanya kebebasan berkarya.
41. A. Seandainya anda menjadi pimpinan puncak mempunyai gagasan untuk merumuskan budaya perusahaan masa depan dan mampu merumuskan hal-hal yang terkait dengan kepuasaan dengan menda-pat dukungan dari karyawan, maka anda akan mengimplementasikannya secara profesional.
B. Ada pula yang berpendapat apabila tidak mendapatkan dukungan secara utuh termasuk komisaris dan pemilik akan menunda pelaksanaan budaya yang telah dirumuskan bersama.
42. A. Gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya ini dapat berasal dari manapun, perorang, kelompok, dari tingkat bawah atau atas, hanya saja tidak dilola secara berkelanjutan sebagai faktor yang membentuk perilaku manajemen.
B. Lingkungan yang teratur dan bersaing juga dapat merupakan faktor membentuk perilaku manajemen walaupun dilola dengan manajemen berdasarkan komunikasi satu arah.
43. A. Pimpinan semua tingkatan, ada yang berkeyakinan bahwa mengelola perusahaan berdasarkan ketaatan dan prosedur yang telah ditetapkan dapat meningkatkan kinerja sepanjang keterlibatan dan konsisten dapat terjaga.
B. Ketaatan dan prosedur yang ketat dapat menghambat kemungkinan kreativitas individu dan kelompok disatu sisi dan disisi lain tidak terjadi inovasi yang akan berdampak kinerja menurun.
44. A. Ada pula yang mengatakan budaya perusahaan adalah sistem nilai dan keyakinan organisasi yang mewarnai perilaku pegawai dan kegiatan organisasi yang dimotori oleh pimpinan puncak dengan ketaatan dan prosedur yang ditetapkan.
B. Pimpinan puncak yang membuat keputusan mempunyai akses terhadap informasi seperlunya dari semua tingkat dari organisasi dalam memecahkan masalah.
45. A. Pimpinan semua tingkatan manajemen, kadang-kadang dikatakan kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin dapat memotivasi kebersamaan dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang dapat diprdeksi lebih dahulu.
B. Dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari pimpinan puncak dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
46. A. Ada yang berpendapat bahwa pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai tugas hrus dikerjakan berdampak peningkatan kinerja.
B. Para karyawan bekerja ke arah tujuan yang mereka rasa akan menyumbang pada pencapaian tujuan organisasi yang lebih besar, karena adanya nilai yang dianut bersama.
47. A. Terdapat pengertian umum bahwa setiap karyawan dan kelompok bertanggung jawab atas evaluasi diri dan menerima tanggung jawab untuk berubah.
B. Pimpinan puncak yang bertanggung jawab untuk meningkat-kan kreativitas diperlukan adanya kebebasan bertindak tapi dibawah pengawasan dan bimbingan atasannya.
48. A. Ada pula yang berpendapat pemimpin tidak perlu menggunakan kekuasannya, berikan kebebasan bawahan merencanakan tujuan dan cara mencapainya.
B. Pimpinan yang bijaksana dalam menerapkan kepemimpinan yang bebas, ia berkewajiban menyediakan informasi yang dibutuhkan dan analisa dampak dari faktor lingkungan.
49. A. Seandainya anda adalah pimpinan atau karyawan dimana organisasi telah merumuskan budaya perusahaan tapi dengan perkembangan perubahan yang serba komplek dan tak menentu tapi budaya telah berakar dalam perilaku, strategipun berubah, sebaiknya kita melangkah tidak lain anda harus merumus ulang.
B. Apapun keputusan yang hendak diambil oleh pimpinan selalu melibatkan bawahan untuk ikut serta bertanggung jawab.
50. A. Budaya yang kuat sebagai daya dorong untuk mengimple-mentasikan makna penghargaan, pelayanan terbaik, melaksanakan tugas dengan cara yang lebih unggul dengan pendekatan mengikut sertakan bawahan dalam pemecahan masalah.
B. Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi bawahannya untuk membuktikan keberadaan budaya dapat mempengaruhi dalam mencapai hasil bersama.
51. A. Bagaimanapun juga pimpinan semua tingkatan harus dapat mempengaruhi bawahannya melalui suatu kebijakan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk membuktikan keberadaan budaya dapat mempengaruhi dalam mencapai hasil bersama.
B. Organisasi sebaiknya memiliki suatu perhatian nyata dalam kesejahteraan dan kepuasan semua pihak atas orang yang bekerja disini.
52. A. Organisasi ini mengatakan kelompok kerja anda apa yang dibutuhkan untuk mengetahui terhadap kemungkinan pekerjaan terbaik secara berkelanjutan.
B. Orang diatas bos anda mudah menerima terhadap ide-ide dan usul-usul yang datang dari kelompok kerja anda.
53. A. Organisasi bekerja dalam satu sistem sesuai dengan aturan dan prosedur dalam proses pengambilan keputusan bertolak dengan tersedianya informasi yang cukup dan akurat.
B. Sekiranya organisasi secara jelas menggariskan tujuan dan sasaran serta meyakinkan untuk dicapai tapi peran kepemimpinan tidak mampu mempengaruhi bawahannya karena ketidak jelasan dalam uraian tugas.
54. A. Budaya yang kuat juga dikatakan membantu kinerja karena memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar pada aturan dan prosedur yang ketat.
B.Budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi sehingga karyawan-karyawan baru secara otomatis terdorong untuk mengikuti perilaku sejawatnya.
55. A. Orang-orang dipengaruhi oleh keputusan untuk ide-ide mereka namun dalam memasuki kebebasan hendaknya harus dikendalikan.
B. Organisasi ini mencoba untuk meningkatkan kondisi pekerjaan yang sesuai dengan lingkungan kerja tanpa mengajak para bawahan.
56. A. Secara sadar aktivitas pekerjaan diorganisir dalam organisasi ini sesuai dengan setiap kebutuhan saja.
B. Kelompok kerja anda mendapatkan informasi yang cukup tentang apa yang terjadi di departemen lainnya.
57. A. Perilaku manajemen terbentuk dengan kesamaan pikiran dalam bertindak, namun perubahan datang ibarat gelombang badai dengan segala ketidak pastian tapi dengan pendekatan secara konsisten melibatkan semua pihak dapat mewujudkan apa yang dicitakan dengan sarana berpikir menjauhkan masalah.
B. Perilaku interaksi kedalam organisasi ditentukan keberadaan budaya yang berdampak dapat memberikan pelimpahan sepenuhnya kepada bawahan untuk bertindak sesuai perannya.
58. A. Mereka menilai proses manajemen yang teratur dan kurangnya resiko jauh lebih tinggi dari pada memecahkan masalah yang tidak ada kepastian.
B. Kepemimpinan yang berhasil biasanya menaruh perhatian atas budaya perusahaan untuk diterapkan untuk mewujudkan konsisten dan keterlibatan semua pihak.
59. A. Perusahaan dengan budaya kuat yang terkenal kiranya adalah mereka memiliki reputasi kesetiaan dan sangat termotivasi.
B. Pada umumnya manajer menyetujui keputusan yang dibuat secara konsensus dengan berppegang kepada aturan dan prosedur yang ada.
60. A. Organisasi mengalami keberhasilan dalam bidang-bidang dimana praktek-praktek cocok dengan semua kebutuhan konsti-tuensi.
B. Tiga kekuatan memainkan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan suatu budaya yang disebut dengan adanya kejelasan aturan dan prosedur untuk praktek seleksi, tindakan manaje-men puncak dan metode sosialisasi.
61. A. Budaya merupakan bauran kompleks dari asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora dan ide yang lain yang digabungkan menjadi satu untuk menentukan apa arti bekerja dalam suatu organisasi sehingga memanfaatkan peranan secara bijaksana.
B. Banyak pemimpin tidak menyadari bahwa kepemimpinan sangat mempengaruhi kesuksesan orang mempengaruhi orang lain bergantung kepada pemanfaatan kekuasaan secara bijaksana.
62. A. Sebuah budaya dapat membutakan orang terhadap fakta yang tidak sejalan dengan asumsinya, bahkan juga membutuhkan eksekutif yang sangat cerdas, berpengalaman dan berhasil bergantung kepada pemahaman kekuasaan yang dimilikinya.
B. Budaya yang sudah berurat berakar dapat membuat implementasi strategi baru dan berbeda menjadi sangat sulit.
63. A. Pemimpin mulai yakin bahwa mereka adalah yang terbaik dan bahwa tradisi mereka yang istimewa sangat supior. Pemimpin puncak akan bereaksi atas kecenderungan itu bila menyimpang dari harapan bersama.
B. Sebuah budaya yang adaptif meminta pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko, percaya dan proaktiff terhadap kehidupan organisasi dan individu.
64. A. Suatu budaya muncul mencerminkan visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki orang dalam mengimplementasikannya.
B. Mereka mengatakan bahwa kemampuan luar biasa untuk menjajaki arah yang dimiliki bersama oleh para manajer yang sukses telah secara meyakinkan membantu hasil jangka panjang bila kon-sisten menjalankan kreativitas dalam kondisi lingkungan yang baik.




Skor Dimensi anda memberikan suatu indikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, apa yang anda pikirkan mempengaruhi gaya-gaya terhadap :
Orientasi internal (menunjukkan tingkat konsisten dan keterlibatan)
Orientasi eksternal ( menunjukkan tingkat kemampuan beradaptasi dan
keputusan strategik jangka panjang yang digariskan kedalam visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi)
Bertolak dari gaya kepemimpinan akan mempengaruhi orientasi internal dan eksternal sebagai faktor penentu keefektivitas organisasi melalui proses budaya perussahaan yang membentuk perilaku interaksi kedalam organisasi.


Catatlah skor anda untuk masing-masing profil budaya perusahaan
tersebut dengan membuat garis tebal secara horizontal yang akan
memperlihatkan perilaku budaya dalam menghadapi lingkungan dan
menghadapi kompetensi kedalam lima area.
14. Tuliskan dibawah ini pengaruh gaya kedalam profil budaya :
Yang dominan : …………………………………………………
Yang menunjang : …………………………………………………
15. Tuliskan skor dimensi anda yang tercantum dalam titik 11 untuk
HI, HE, HP ditengah-tengan diagram dibawah ini yang menggam-
barkan sintesa gaya dari profil budaya perusahaan. Tariklah tanda
sesuai dengan angka skor dimensi tersebut keatas atau dibawah.
HIPOTESA TIGA DIMENSI
DALAM MERUMUSKAN BUDAYA PERUSAHAAN


Hipotesa tiga dimensi ini menggambarkan interaksi perilaku dalam organisasi yang akan menunjukkan praktek budaya (nilai, norma, wewenang dan ganjar) baik tertulis maupun tidak membentuk perilaku manajemen.
Hipotesa faktor ekstern (HE), hipotesa faktor intern (HI) dan hipotesa faktor produktivitas (HP) akan mempengaruhi terbentuknya delapan model budaya perusahaan.
Hipotesa faktor ekstern (HE) adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi (pelanggan, pemasok, masyarakat, ekonomi, teknologi, pemerintah) perilaku organisasi, oleh karena itu sikap invidu dan kelompok harus dapat beradaptasi bila setiap perubahan terjadi sehinga pola pikir harus dilihat dari sisi proaktif dan keputusan strategik.
Hipotesa faktor intern (HI) adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi (komptensi manajerial, teknik, informasi, organisasi didalam area pemasaran, penelitian dan pengembangan, produksi dan operasi, keuangan dan akuntansi, manajemen umum) perilaku organisasi, oleh karena itu sikap individu dan kelompok harus dapat berinteraksi untuk mewujudkan pola pikir dalam keterlibatan dan konsistensinya.
Hipotesa faktor produktivitas (HP) adalah faktor penentu tingkat keberhasilan sebagai akibat kemampuan individu dan kelompok mengintergrasikan faktor eksternal dan internal dimana organisasi memiliki sifat fleksibilitas dan berubah disatu sisi dan disisi lain dapat menunjukkan arah yang dituju dan stabilitas, yang kesemuanya sebagai daya dorong untuk mewujudkan efesiensi, efektivitas dan kualitas.
Delapan model budaya yang terbentuk dari pola pikir dalam melaksanakan kegiatan yang terkait dengan peran yang dilakukannya sesuai dengan hipotesa (HI, HE, HP) akan melahirkan perilaku budaya yang berdampak kearah sifat perubahan, fleksibilitas, stabilitas dan kejelasan. Pada suatu tingkat tertentu dimana terjadi intergrasi HI dan HE secara harmonis akan menunjukkan perilaku budaya yang dominan akan berdampak atas HP.
Seorang CEO yang mengelola berdasarkan budaya yang prima akan tetap dapat mengarahkan dan menempatkan posisi daur hidup perusahaan yang prima artinya memiliki kemampuan fleksibilitas dan mudah dikontrol yang mampu menciptakan produktivitas yang tinggi.
Kedelapan model budaya dengan memperhatikan HI, HE, HP dapat diuraikan seperti dibawah ini :
BEBAS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku atas peran yang dimainkan oleh para manajer semua tingkatan dimana mereka melepaskan para anggota kelompok
kerjanya bebas bertindak tanpa pengarahan atau kontrol kecuali mereka memintanya, atas dasar rencana kerja dan anggaran yang sudah ditetapkan.
BEBAS PROAKTIF, dalam hal ini para manajer semua tingkatan memainkan peranan diawal dan di akhir untuk melaksanakan pengendalian dan pengawasan secara aktip terhadap semua aktivitas yang dilakukan bawahannya.
Kedua model budaya ini lebih banyak kerugiannya dari pada keuntungan karena setidak-tidaknya ada faktor yang sulit dikendalikan yaitu 1) hal yang terkait dengan struktur tugas atau pekerjaan 2) ketidak pastian sikap dan perilaku pemimpin yang diterapkan 3) ketidak pastian kondisi lingkungan yang dihadapi 4) sulit menentukan kompetensi yang dibutuhkan yang sejalan dengan tenaga yang ada.
OTOKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepemimpinan yang sering dikatakan pula sebagai pemimpin yang terpusat yang bertolak dari power dan authority yang bersumber dari posisi perannya sehingga pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan dan bilamana tugas harus dikerjakan, jadi yang menonjol adalah pemeberian perintah dan menuntut adanya kepatuhan.
OTOKRATIS PROAKTIF, sebaliknya dimana pemimpin dapat memainkan perannya secara lunak atas power dan authority yang dimiliki atas hubungan yang sering bersifat pribadi yang ditandai dengan 1) pemimpin mengetahui yang terbaik 2) ketergantungan pribadi bawahan 3) sangat bersandarkan pada rewards dan rasa aman.
Kedua model budaya ini menunjukkan bahwa dengan harapan untuk meningkatkan produktivitas terutama dalam situasi krisis atau darurat yang bergantung jalur komando, kejelasan pembagian tugas dan sepenunuhnya dimengerti oleh setiap bawahan, tetapi sebaliknya terdapat kelemahan yang mendasar karena komunikasi satu arah yang dapat menimbulkan kesalah pahaman, juga diperlukan pemain peran dengan memiliki keahlian yang tinggi dengan kemampuan mampu membaca seluruh situasi bila tidak dapat menimbulkan sikap dan pe-rilaku pengikut dengan moral yang rendah yang berdampak kepada tingkat produktivitas yang rendah.
BIROKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepimpinan dalam mengelola berdasarkan aturan dan prosedur yang baku (absolute) untuk menggerakkan bawahan mengenai apa dan bagaimana sesuatu itu dilaksanakan dan tidak diperkenankan adanya pengecualian sedikitpun termasuk aspek-aspek teknis.
BIROKRATIS PROAKTIF, sebaliknya peran kepemimpinan bersandarkan kepada aturan dan prosedur tidak memandang secara absolute melainkan bijaksana menerapkannya sesuai dengan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.
Kedua model ini sebenarnya merupakan bentuk lain dari pembentukan otokratis, yang juga memiliki keuntungan yang kita sebut tercip-tanya kekonsistensian kebijakan dan prosedur, tetapi juga memiliki kelemahan seperti kekakuan dalam situasi-situasi di mana diperlukan adanya pengecualian, kelumpuhan bila tidak diatur, tidak beranani mengambil keputusan bersandarkan judgment.
DEMOKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepemimpinan yang terpusat kepada bawahan, menegakkan kesederajatan, partisifatip sebagai landasan melaksanakan persuasi dan motivasi yang bertumpu kepada pemikiran dari dalam semata-mata untuk menyelesaikan masalah yang timbul.
DEMOKRATIS PROAKTIF, sebaliknya dimana kepemimpinan akan menekankan kepada pemikiran-pemikiran bagaimana sebaiknya kita menhindari dari masalah artinya mengerakkan dari pngamatan faktor ekstern (lingkungan) yang mempengaruhi satu situasi kedalam untuk selalu siap menghadapi tantangan yang terjadi.
Kedua model ini memang menekankan setiap individu dan kelompok merasakan keterlibatan mereka, dengan demikian maka dengan daya dorong mengajak dan terbuka akan memberikan manfaat orang untuk berkarya dan menumbuhkan kereatifitas, tetapi juga berdampak proses keputusan yang lambat, untuk menutup kelemahan diri kepemimpinan yang berdampak kurang dihargai.
thanx untuk artikelnya, sangat membantu saya dalam mengerjakan skripsi….
Regards
Dewa