<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pengembangan Budaya Organisasi</title>
	<atom:link href="http://budayaatr.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budayaatr.wordpress.com</link>
	<description>Pengembangan Budaya Orgasisasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Dec 2007 13:01:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='budayaatr.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cbf72e24fe79367f8152c238042edb40?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pengembangan Budaya Organisasi</title>
		<link>http://budayaatr.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>DIAGNOSIS BUDAYA</title>
		<link>http://budayaatr.wordpress.com/2007/12/19/diagnosis-budaya/</link>
		<comments>http://budayaatr.wordpress.com/2007/12/19/diagnosis-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 13:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diagnosis Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budayaatr.wordpress.com/2007/12/19/diagnosis-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[1. 	A. 	Pimpinan Puncak membangun proses pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan dengan mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah sesuai dengan tingkatan manajemen yang ada.
B. Bahwa semua masalah ditetapkan oleh pimpinan puncak dengan pola pikir memecahkan masalah dengan melibatkan proses pengambilan keputusan dari bawah.
2. 	A. Masalah yang komplek dan rumit sedang dihadapi, pimpinan semua tingkatan merasakan keputusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=8&subd=budayaatr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. 	A. 	Pimpinan Puncak membangun proses pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan dengan mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah sesuai dengan tingkatan manajemen yang ada.</p>
<p>B. Bahwa semua masalah ditetapkan oleh pimpinan puncak dengan pola pikir memecahkan masalah dengan melibatkan proses pengambilan keputusan dari bawah.</p>
<p>2. 	A. Masalah yang komplek dan rumit sedang dihadapi, pimpinan semua tingkatan merasakan keputusan harus diambil dalam memecahkan persoalan, asalkan keputusan diambil berdasarkan keputus-an bersama dengan landasan menghindari masalah.</p>
<p>B. Masalah yang komplek dan rumit sedang dihadapi, pimpinan semua tingkatan merasakan keputusan harus diambil dengan mengikut sertakan bawahan dengan memecahkan masalah.</p>
<p>3.	A. Semua tingkatan pimpinan bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang ada, mereka memberikan dukungan supervisi dengan rasa berkawan, menaruh perhatian, mau mendengar sebagai suatu pendekatan dalam memecahkan masalah untuk me-ningkatkan kinerja.</p>
<p>B. Semua tingkatan pimpinan bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang ada dalam melaksanakan supervisi bila diminta atau timbulnya masalah.</p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p>4.	A. Kebanyakan para manajer bertindak dan berperilaku sesuai norma-norma tertulis dalam mengelola aktivitas mereka.</p>
<p>B. Kebanyakan para manajer bertindak dan berperilaku dalam proses pengambilan keputusan dengan meminta pendapat dari bawahan terhadap hal-hal yang bersifat strategis.</p>
<p>5. 	A. Pimpinan puncak bertindak dan berperilaku mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah atas kemampuan sendiri dan meminta bawahannya untuk memecahkan masalahnya.</p>
<p>B. Pimpinan puncak bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang ada ditangannya dalam semua kegiatan.</p>
<p>6.	A. Semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki tetapi memiliki wawasan dalam kegiatannya sesuai dengan tuntutan perubahan.</p>
<p>B. Semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki untuk memecahkan setiap masalah yang timbul baru bertindak.</p>
<p>7.	A. Pimpinan puncak memberikan kebesan atau melimpahkan wewenangnya kepada bawahan yang memiliki kompetensi untuk merumuskan dan mencapai atas misi yang telah ditetapkan.</p>
<p>B. Pimpinan puncak memberikan kebebasan atau melimpahkan wewenang kepada semua pimpinan menengah dan bawah dalam setiap masalah operasional yang dihadapi.</p>
<p>8.	A. Pimpinan menengah dan bawah yang menerima pelimpahan wewenang mengambil keputusan untuk setiap masalah yang dihadapinya tanpa mempertimbangkan perubahan lingkungan.</p>
<p>B. Pimpinan semua tingkatan manajemen bertindak dan berperilaku tidak berani mengambil keputusan yang diberikan kepadanya.</p>
<p>9.	A. Semua tingkatan manajemen konsisten melibatkan       bawahan dalam mensupervisi dalam membangun tim, merumus-kan tujuan dan menggariskan fasilitas kerja untuk mewujudkan misi yang terkait dengan pandangan masa depan.</p>
<p>B. Pimpinan puncak dalam bersikap dan berpilaku memperhatikan saran-saran yang diberikan bawahannya lebih menekankan pertimbangan internal semata.</p>
<p>10. 	A. 	Pimpinan pucak dalam mengambil keputusan bersandarkan aturan yang ada, ia terikat dengan kebijakan itu namun keputusan yang diambil bertolak dari suatu pemikiran sebaiknya menghin-dari masalah sebelum terjadi.</p>
<p>B.	Semua tingkatan pimpinan dalam melaksanakan kegiatan dengan mempertimbangkan semua saran yang diberikan bawahan dalam setiap penyelesaian masalah yang dihadapi.</p>
<p>11.	A. Mereka mengatakan bahwa kemampuan luar biasa untuk menjajaki arah yang dimiliki bersama oleh para manajer yang sukses telah secara meyakinkan membantu hasil jangka panjang dengan aturan-aturan yang ada dalam menangkap situasi masa depan.</p>
<p>B. Pimpinan puncak hanya bersikap dan berperiliku dalam menjalankan masalah-masalah yang mendesak dengan mengikut serta bawahannya.</p>
<p>12.	A.	Semua tingkatan manajemen bertindak menyelesaikan tugas berdasarkan aturan yang ada dengan memperhatikan faktor internal tanpa mengikuti perkembangan eksternal.</p>
<p>B. Keterlibatan semua pihak dalam menyelesaikan masalah ope-rasional tanpa melihat akibatnya ke masa depan, yang penting jangka pendek terselesaikan.</p>
<p>13.	A. Pimpinan puncak dengan kekuasan yang dimilikinya menugaskan para bawahannya untuk bertindak dalam menjalankan tugasnya dengan bersandarkan pertimbangan faktor eksternal dan internal.</p>
<p>B. Pimpinan puncak dengan kekuasaan yang dimilikinya memerintahkan bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menekankan pertimbangan internal yang sangat menentukan.</p>
<p>14.	A.	Semua tingkatan pimpinan merasakan keberhasilan menggerakkan bawahan menjadi produktif atas tindakan yang mendesak tanpa suatu perencanaan tindakan yang menyeluruh.</p>
<p>B. Semua tingkatan pimpinan merasakan keberhasilan menggerakkan bawahan menjadi produktif sesuai dengan kekuasaan yang dimilikinya.</p>
<p>15.	A.	Pimpinan semua tingkatan menyerahkan segala sesuatu kepada bawahannya untuk merencanakan cara-cara untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ditetapkan sebelumnya.</p>
<p>B.	Pimpinan semua tingkatan menyerahkan segala sesuatu kepada bawahannya baik individu maupun kelompok untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan perannya.</p>
<p>16.	A. Pimpinan puncak setelah merumuskan perencanaan jangka panjang, selanjutnya menyerahkan kepada bawahan untuk menyelesaikan cara mencapai sasaran yang telah ditetapkan.</p>
<p>B. Pimpinan puncak setelah merumuskan rencana kerja jangka pendek selanjutnya melimpahkan wewenang untuk menyelesaikan bila masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan operasional.</p>
<p>17.	A. Pimpinan puncak mempengaruhi semua tingkatan manajemen dan karyawan bahwa menghindari masalah lebih penting dari memecahkan masalah dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>B. Pimpinan semua tingkatan merencanakan jangka panjang hanya  menekankan masalah-masalah internal.</p>
<p>18.	A. Mengelola berdasarkan nilai dituntut adanya kesamaan dalam bersikap dan perperilaku dalam memandang kepentingan stake –holders.</p>
<p>B.	Pimpinan puncak dalam menyelesaikan masalah dengan mengikutsertakan bawahan untuk setiap persoalan terjadi.</p>
<p>19.	A. Pimpinan semua tingkatan merencanakan keputusan jangka panjang sesuai dengan pedoman yang ada.</p>
<p>B. Pimpinan pada tingkatan menengah dalam melaksanakan tugas sesuai dengan sesuai rencana jangka panjang bila perlu sesuai kebutuhan dalam perubahan.</p>
<p>20.	A.	Pelaksana hanya menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan, dan pimpinan akan mempersupervisi setiap ada masalah.</p>
<p>B. Memfungsikan kehadiran kelompok yang mampu merespon permintaan kerja yang tidak biasa dengan mempersurvisi mereka.</p>
<p>21.	A. Individu dan kelompok disupervisi atasannya dalam memecahkan masalah yang timbul dengan suatu pendekatan kekuasaan yang dimilikinya serta memperhatikanseluruh situasi yang berkembang.</p>
<p>B.	Pemimpin melaksanakan kekuasaannya dan menugaskan untuk dilaksanakan menyelesaikan pekerjaan yang mendesak.</p>
<p>22.	A. Dalam mensupervisi diperlukan kemampuan yang tinggi, bila tidak dapat menimbulkan persoalan dalam pelaksaan tetapi dapat juga sebaliknya menjadi sangat efektif.</p>
<p>B. Kebanyakan kelompok pemimpin dalam semua tingkatan menjalankan komunikasi satu arah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat operasional.</p>
<p>23.	A. Unntuk meningkatkan keefektifan diperlukan kemampuan bawahan yang memiliki tingkat keterampilan sesuai dengan peran yang harus dilakukannya.</p>
<p>B.	Mempersupervisi untuk meningkatkan efektivitas kerja sangat ditentukan oleh lingkungan kerja yang dapat menunjang kreativitas individu.</p>
<p>24.	A. Pimpinan puncak menetapkan tujuan yang hendak dicapai, selanjutnya melimpahkan wewenang kepada bawahan dengan harapan agar waktu dan sumber daya dapat dilakukan secara optimal.</p>
<p>B. Dengan pelimpahan wewenang kepada bawahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetap, mereka diberikan keleluasan untuk memutuskan cara mencapainya tanpa kontrol yang ketat.</p>
<p>25.	A. Kalau anda menyetujui bahwa mengelola berdasarkan budaya dapat meningkatkan keberhasilan perusahaan, mengapa keba-nyakan pimpinan pucak tidak merumuskannya sebagai suatu strategi dalam pengembangan sumber daya manusia.</p>
<p>B. Partisifatip hanya dapat terwujud bila memberikan ruang gerak bagi mereka untuk mendapatkan kepuasan dengan kemajuan peningkatan yang lebih tinggi.</p>
<p>26.	A. Pimpinan semua tingkatan manajemen lebih menekankan arti penting keterlibatan dan konsistensi, walaupun memecahkan persoalan yang dihadapi bertolak dari keadaan yang mendadak untuk segera diputuskan.</p>
<p>B.	Organisasi seharusnya  efektip dalam memenuhi kepentingan pelanggan, walaupun  aktivitas digerakkan pada saat adanya ketidak pastian dalam pelaksanaan dengan tetap tidak  melepaskan diri dari tanggung jawab.</p>
<p>27.	A.	Ada pula yang mengatakan budaya perusahaan adalah suatu pola terpadu dari tingkah laku pegawai dalam perusahaan antara lain pemikiran, tindakan, pembicaraan, ritual / upacara dan benda-benda yang diatur bersama dalam menghadapi tantangan dari ketidak pastian.</p>
<p>B.	Anda senang melaksanakan aktivitas hari ke hari yang membangun pekerjaan anda berdasarkan aturan yang tidak dirumuskan sebelumnya.</p>
<p>28.	A.	Peran budaya sebagai intergrasi kedalam dalam arti menyatukan perilaku. Interaksi kedalam organisasi perusahaan akan dipengaruhi faktor-faktor ekstern dan intern dan oleh oleh karena perlu dilola berdasarkan nilai.</p>
<p>B.	Departemen anda menerima kerja sama dan bantuan dari departemen lain berdasarkan rencana yang tidak terorganisasi namun dalam praktek adakalanya berjalan efektip.</p>
<p>29.	A.	Membangun tim supervisi yang memberi semangat dan kejelasan tentang apa yang diharapkan orang atas apa yang dikerjakan anda melalui kekuasaan dengan memperhatikan lingkungan.</p>
<p>B.	Seseorang menginginkan pemikiran anda dan orang lain yang berbeda pandangan dengan pemikiran anda  tapi dalam praktek diselesaikan dengan kekuasaan.</p>
<p>30.	A. Kepuasan individu, kelompok, pimpinan, organisasi dengan kemajuan yang dicapai dan mendapat peluang dimasa depan hanya dilaksanakan berdasarkan kekuasaan untuk setiap persoalan yang dihadapi.</p>
<p>B.	Sukses yang sesungguhnya tidak datang dari pernyataan nilai-nilai kami, tetapi dari pelaksanaan nilai-nilai tersebut setiap hari hanya berdasarkan kekuasaan.</p>
<p>31.	A.	Tiga kekuatan memainkan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan suatu budaya yaitu praktek seleksi, tindakan manajemen puncak dan metode sosialisasi dalam merealisasikan pelimpahan wewenang.</p>
<p>B.	Suksesnya suatu pelimpahan wewenang sangat ditentukan oleh peningkatan kreativitas orang yang terkait dengan pekerjaan.</p>
<p>32.	A. Pelimpahan wewenang  dilakukan secara tertulis ataukah hanya setiap ada persoalan yang dihadapi untuk dilaksanakan oleh anda karena sebagai bawahan.</p>
<p>B.	Kepemimpinan dikatakan merupakan faktor penentu membentuk perilaku manajemen, tapi kebayakan pimpinan semua tingkatan sangat sulit merumuskan pelimpahan wewenang.</p>
<p>33.	A.	Percayakah anda selaku pimpinan pada semua tingkatan dapat memotivasi bawahan karena adanya kejelasan merumuskan fungsi kelompok dapat mempengaruhi kinerja individu atau kelompok.</p>
<p>B. Budaya perusahaan dapat mempunyai dampak yang berarti terhadap kinerja ekonomi jangka panjang.</p>
<p>34.	A.	Karyawan merasakan  baik sebagai individu atau sebagai anggota kelompok merasakan fasilitas kerja yang dirancang sebelumnya terlibat dalam membuat keputusan sehingga membantu menemukan cara yang terbaik dalam melaksanakan pekerjaan.</p>
<p>B. Pengakuan dan respek atas pekerjaan anda yang baik bila pendekatan hanya dilakukan karena pimpinan senang kepada anda.</p>
<p>35.	A. Suatu budaya muncul dan berkembang mencerminkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki orang dalam mengimplementasikan.</p>
<p>B. Barang kali yang mendasar orang yang mengikuti norma-narma akan diberi imbalan / ganjar sedangkan yang tidak tidak mendapat perhatian selayaknya.</p>
<p>36.	A. Pekerjaan anda akan memungkinkan memberi kesempatan baik untuk mendapat yang lebih tinggi bila diatur dengan jelas untuk dipatuhi.</p>
<p>B. Pemimpin semua tingkatan beranggapan bahwa aturan yang jelas adakalanya sulit diterapkan bila kreteria penilaian kepuasan itu tidak ada.</p>
<p>37.	A. Pemimpina semua tingkatan akan mematuhi peraturan yang ada bila pelaksanaannya secara konsisten dilaksanakan secara baik dan aturan itu terbentuk berdasarkan keterlibatan semua pihak dengan mempertimbangkan faktor eksternal yang akan mempengaruhi.</p>
<p>B. Adapula pimpinan berpendapat pelaksanaan norma-norma yang harus dipatuhi bertolak dari pekerjaan tertentu saja.</p>
<p>38.	A. Budaya perusahaan yang menghambat kinerja keuangan jangka panjang cukup banyak, budaya-budaya tersebut mudah berkembang bahkan dalam perusahaan yang penuh dengan orang pandai dan berakal sehat, maka tidak penyelesaiannya berdasarkan kekuasaan oleh pimpinan puncak.</p>
<p>B. Walaupun sulit untuk diubah, budaya perusahaan dapat dibuat agar bersifat lebih mengutamakan sikap dan perilaku meningkatkan kinerja.</p>
<p>39.	A. Ada perusahaan dengan budaya lemah mampu berkinerja baik, jika teori ini salah, mengapa banyak orang pandai yang menerimanya.</p>
<p>B.	Ada usaha untuk mengembangkan budaya yang bertolak dari kebebasan orang berpikir untuk mengembangkan cara penyelesaian masalah tanpa perlu dikendalikan.</p>
<p>40.	A.	Manajemen puncak dalam perusahaan berusaha untuk mengimplementasikan suatu visi dan misi yang ditetapkan melalui pengelolaan manajemen konflik untuk mewujudkan tujuan dan sa-saran.</p>
<p>B. Pimpinan semua tingkatan manajemen berkeyakinan struktur, sistem, rencana, kebijakan formal dapat diimplemtasikan secara baik bila didukung adanya kebebasan berkarya.</p>
<p>41.	A. Seandainya anda menjadi pimpinan puncak mempunyai gagasan untuk merumuskan budaya perusahaan masa depan dan mampu merumuskan hal-hal yang terkait dengan kepuasaan dengan menda-pat dukungan dari karyawan, maka anda akan mengimplementasikannya secara  profesional.</p>
<p>B.	Ada pula yang berpendapat apabila tidak mendapatkan dukungan secara utuh termasuk komisaris dan pemilik akan menunda pelaksanaan budaya yang telah dirumuskan bersama.</p>
<p>42.	A. Gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya ini dapat berasal dari manapun, perorang, kelompok, dari tingkat bawah atau atas, hanya saja tidak dilola secara berkelanjutan sebagai faktor yang membentuk perilaku manajemen.</p>
<p>B. Lingkungan yang teratur dan bersaing juga dapat merupakan faktor membentuk perilaku manajemen walaupun dilola dengan manajemen berdasarkan komunikasi satu arah.</p>
<p>43.	A. Pimpinan semua tingkatan, ada yang berkeyakinan bahwa mengelola perusahaan berdasarkan ketaatan dan prosedur yang telah ditetapkan dapat meningkatkan kinerja sepanjang keterlibatan dan konsisten dapat terjaga.</p>
<p>B. Ketaatan dan prosedur yang ketat dapat menghambat kemungkinan kreativitas individu dan kelompok disatu sisi dan disisi lain tidak terjadi inovasi yang akan berdampak kinerja menurun.</p>
<p>44.	A. Ada pula yang mengatakan budaya perusahaan adalah sistem nilai dan keyakinan organisasi yang mewarnai perilaku pegawai dan kegiatan organisasi yang dimotori oleh pimpinan puncak dengan ketaatan dan prosedur yang ditetapkan.</p>
<p>B. Pimpinan puncak yang membuat keputusan mempunyai akses terhadap informasi seperlunya dari semua tingkat dari organisasi dalam memecahkan masalah.</p>
<p>45.	A. Pimpinan semua tingkatan manajemen, kadang-kadang dikatakan kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin dapat memotivasi kebersamaan dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang dapat diprdeksi lebih dahulu.</p>
<p>B. Dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari pimpinan puncak dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.</p>
<p>46.	A. Ada yang berpendapat bahwa pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai tugas hrus dikerjakan berdampak peningkatan kinerja.</p>
<p>B. Para karyawan bekerja ke arah tujuan yang mereka rasa akan menyumbang pada pencapaian tujuan organisasi yang lebih besar, karena adanya nilai yang dianut bersama.</p>
<p>47.	A.	Terdapat pengertian umum bahwa setiap karyawan dan kelompok bertanggung jawab atas evaluasi diri dan menerima tanggung jawab untuk berubah.</p>
<p>B. Pimpinan puncak yang bertanggung jawab untuk meningkat-kan kreativitas diperlukan adanya kebebasan bertindak tapi dibawah pengawasan dan bimbingan atasannya.</p>
<p>48.	A. Ada pula yang berpendapat pemimpin tidak perlu menggunakan kekuasannya, berikan kebebasan bawahan merencanakan tujuan dan cara mencapainya.</p>
<p>B. Pimpinan yang bijaksana dalam menerapkan kepemimpinan yang bebas, ia berkewajiban menyediakan informasi yang dibutuhkan dan analisa dampak dari faktor lingkungan.</p>
<p>49.	A. Seandainya anda adalah pimpinan atau karyawan dimana organisasi telah merumuskan budaya perusahaan tapi dengan perkembangan perubahan yang serba komplek dan tak menentu tapi budaya telah berakar dalam perilaku, strategipun berubah, sebaiknya kita melangkah tidak lain anda harus merumus ulang.</p>
<p>B.	Apapun keputusan yang hendak diambil oleh pimpinan selalu melibatkan bawahan untuk ikut serta bertanggung jawab.</p>
<p>50.	A.	Budaya yang kuat sebagai daya dorong untuk mengimple-mentasikan makna penghargaan, pelayanan terbaik, melaksanakan tugas dengan cara yang lebih unggul dengan pendekatan mengikut sertakan bawahan dalam pemecahan masalah.</p>
<p>B.	Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi bawahannya untuk membuktikan keberadaan budaya dapat mempengaruhi dalam mencapai hasil bersama.</p>
<p>51.	A.	Bagaimanapun juga pimpinan semua tingkatan harus dapat mempengaruhi bawahannya melalui suatu kebijakan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk membuktikan keberadaan budaya dapat mempengaruhi dalam mencapai hasil bersama.</p>
<p>B. Organisasi sebaiknya memiliki suatu perhatian nyata dalam kesejahteraan dan kepuasan semua pihak atas orang yang bekerja disini.</p>
<p>52.	A.	Organisasi ini mengatakan kelompok kerja anda apa yang dibutuhkan untuk mengetahui terhadap kemungkinan pekerjaan terbaik secara berkelanjutan.</p>
<p>B. Orang diatas bos anda mudah menerima terhadap ide-ide dan usul-usul yang datang dari kelompok kerja anda.</p>
<p>53.	A. Organisasi bekerja dalam satu sistem sesuai dengan aturan dan prosedur  dalam proses pengambilan keputusan bertolak dengan tersedianya informasi yang cukup dan akurat.</p>
<p>B. Sekiranya organisasi secara jelas menggariskan tujuan dan sasaran serta meyakinkan untuk dicapai tapi peran kepemimpinan tidak mampu mempengaruhi bawahannya karena ketidak jelasan dalam uraian tugas.</p>
<p>54.	A. Budaya yang kuat juga dikatakan membantu kinerja karena memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar pada aturan dan prosedur yang ketat.</p>
<p>B.Budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi sehingga karyawan-karyawan baru secara otomatis terdorong untuk mengikuti perilaku sejawatnya.</p>
<p>55.	A. Orang-orang dipengaruhi oleh keputusan untuk ide-ide mereka namun dalam memasuki kebebasan hendaknya harus dikendalikan.</p>
<p>B. Organisasi ini mencoba untuk meningkatkan kondisi pekerjaan yang sesuai dengan lingkungan kerja tanpa mengajak para bawahan.</p>
<p>56.	A. Secara sadar aktivitas pekerjaan diorganisir dalam organisasi ini sesuai dengan setiap kebutuhan saja.</p>
<p>B. Kelompok kerja anda mendapatkan informasi yang cukup  tentang apa yang terjadi di departemen lainnya.</p>
<p>57.	A. Perilaku manajemen terbentuk dengan kesamaan pikiran dalam bertindak, namun perubahan datang ibarat gelombang badai dengan segala ketidak pastian tapi dengan pendekatan secara konsisten melibatkan semua pihak dapat mewujudkan apa yang dicitakan dengan sarana berpikir menjauhkan masalah.</p>
<p>B. Perilaku interaksi kedalam organisasi ditentukan keberadaan budaya yang berdampak dapat memberikan pelimpahan sepenuhnya kepada bawahan untuk bertindak sesuai perannya.</p>
<p>58.	A. Mereka menilai proses manajemen yang teratur dan kurangnya resiko jauh lebih tinggi dari pada memecahkan masalah yang tidak ada kepastian.</p>
<p>B. Kepemimpinan yang berhasil biasanya menaruh perhatian atas budaya perusahaan untuk diterapkan untuk mewujudkan konsisten dan keterlibatan semua pihak.</p>
<p>59.	A. Perusahaan dengan budaya kuat yang terkenal kiranya adalah mereka memiliki reputasi kesetiaan dan sangat termotivasi.</p>
<p>B. Pada umumnya manajer menyetujui keputusan yang dibuat secara konsensus dengan berppegang kepada aturan dan prosedur yang ada.</p>
<p>60.	A. Organisasi mengalami keberhasilan dalam bidang-bidang dimana  praktek-praktek cocok dengan semua kebutuhan konsti-tuensi.</p>
<p>B. Tiga kekuatan memainkan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan suatu budaya yang disebut dengan adanya kejelasan aturan dan prosedur untuk praktek seleksi, tindakan manaje-men puncak dan metode sosialisasi.</p>
<p>61.	A. Budaya merupakan bauran kompleks dari asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora dan ide yang lain yang digabungkan menjadi satu untuk menentukan apa arti bekerja dalam suatu organisasi sehingga memanfaatkan peranan secara bijaksana.</p>
<p>B. Banyak pemimpin tidak menyadari bahwa kepemimpinan sangat mempengaruhi kesuksesan orang mempengaruhi orang lain bergantung kepada pemanfaatan kekuasaan secara bijaksana.</p>
<p>62.	A. Sebuah budaya dapat membutakan orang terhadap fakta yang tidak sejalan dengan asumsinya, bahkan juga membutuhkan eksekutif yang sangat cerdas, berpengalaman dan berhasil bergantung kepada pemahaman kekuasaan yang dimilikinya.</p>
<p>B. Budaya yang sudah berurat berakar dapat membuat implementasi strategi baru dan berbeda menjadi sangat sulit.</p>
<p>63.	A. Pemimpin mulai yakin bahwa mereka adalah yang terbaik dan bahwa tradisi mereka yang istimewa sangat supior. Pemimpin puncak akan bereaksi atas kecenderungan itu bila menyimpang dari harapan bersama.</p>
<p>B. Sebuah budaya yang adaptif meminta pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko, percaya dan proaktiff terhadap kehidupan organisasi dan individu.</p>
<p>64.	A. Suatu budaya muncul mencerminkan visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki orang dalam mengimplementasikannya.</p>
<p>B. Mereka mengatakan bahwa kemampuan luar biasa untuk menjajaki arah yang dimiliki bersama oleh para manajer yang sukses telah secara meyakinkan membantu hasil jangka panjang bila kon-sisten menjalankan kreativitas dalam kondisi lingkungan yang baik.</p>
<p><img src="http://img184.imageshack.us/img184/286/44768885eh8.jpg" /></p>
<p><img src="http://img176.imageshack.us/img176/6523/90407003nu4.jpg" /></p>
<p><img src="http://img66.imageshack.us/img66/8302/60884478um9.jpg" /></p>
<p><img src="http://img105.imageshack.us/img105/9869/60836633bu0.jpg" /></p>
<p>Skor Dimensi anda memberikan suatu indikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, apa yang anda pikirkan mempengaruhi gaya-gaya terhadap :<br />
Orientasi internal (menunjukkan tingkat konsisten dan keterlibatan)<br />
Orientasi eksternal ( menunjukkan tingkat kemampuan beradaptasi dan<br />
keputusan strategik jangka panjang yang digariskan kedalam visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi)</p>
<p>Bertolak dari gaya kepemimpinan akan mempengaruhi orientasi internal dan eksternal sebagai faktor penentu  keefektivitas organisasi melalui proses budaya perussahaan yang membentuk perilaku interaksi kedalam organisasi.</p>
<p><img src="http://img180.imageshack.us/img180/1645/13992868im4.jpg" /></p>
<p><img src="http://img183.imageshack.us/img183/4309/22335954mn1.jpg" /></p>
<p>Catatlah skor anda untuk masing-masing profil budaya perusahaan<br />
tersebut dengan membuat garis tebal secara horizontal yang akan<br />
memperlihatkan perilaku budaya dalam menghadapi lingkungan dan<br />
menghadapi kompetensi kedalam lima area.</p>
<p>14. Tuliskan dibawah ini pengaruh gaya kedalam profil budaya :</p>
<p>Yang dominan      : …………………………………………………</p>
<p>Yang menunjang : …………………………………………………</p>
<p>15. Tuliskan skor dimensi anda yang tercantum dalam titik 11 untuk<br />
HI, HE, HP ditengah-tengan diagram dibawah ini yang menggam-<br />
barkan sintesa gaya dari profil budaya perusahaan. Tariklah tanda<br />
sesuai dengan angka skor dimensi tersebut keatas atau dibawah.</p>
<p>HIPOTESA TIGA DIMENSI<br />
DALAM MERUMUSKAN BUDAYA PERUSAHAAN</p>
<p><img src="http://img182.imageshack.us/img182/5047/35543607zv2.jpg" /></p>
<p><img src="http://img295.imageshack.us/img295/2330/58155669kq8.jpg" /></p>
<p>Hipotesa tiga dimensi ini menggambarkan interaksi perilaku dalam organisasi yang akan menunjukkan praktek budaya (nilai, norma, wewenang dan ganjar) baik tertulis maupun tidak membentuk perilaku manajemen.</p>
<p>Hipotesa faktor ekstern (HE), hipotesa faktor intern (HI) dan hipotesa faktor produktivitas (HP) akan mempengaruhi terbentuknya delapan model budaya perusahaan.</p>
<p>Hipotesa faktor ekstern (HE) adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi (pelanggan, pemasok, masyarakat, ekonomi, teknologi, pemerintah) perilaku organisasi, oleh karena itu sikap invidu dan kelompok harus dapat beradaptasi bila setiap perubahan terjadi sehinga pola pikir harus dilihat dari sisi proaktif dan keputusan strategik.</p>
<p>Hipotesa faktor intern (HI) adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi (komptensi manajerial, teknik, informasi, organisasi didalam area pemasaran, penelitian dan pengembangan, produksi dan operasi, keuangan dan akuntansi, manajemen umum) perilaku organisasi, oleh karena itu sikap individu dan kelompok harus dapat berinteraksi untuk mewujudkan pola pikir dalam keterlibatan dan konsistensinya.</p>
<p>Hipotesa faktor produktivitas (HP) adalah faktor penentu tingkat keberhasilan sebagai akibat kemampuan individu dan kelompok mengintergrasikan faktor eksternal dan internal dimana organisasi memiliki sifat fleksibilitas dan berubah disatu sisi dan disisi lain dapat menunjukkan arah yang dituju dan stabilitas, yang kesemuanya sebagai daya dorong untuk mewujudkan efesiensi, efektivitas dan kualitas.</p>
<p>Delapan model budaya yang terbentuk dari pola pikir dalam melaksanakan kegiatan yang terkait dengan peran yang dilakukannya sesuai dengan hipotesa  (HI, HE, HP) akan melahirkan perilaku budaya yang berdampak kearah sifat perubahan, fleksibilitas, stabilitas dan kejelasan. Pada suatu tingkat tertentu dimana terjadi intergrasi HI dan HE secara harmonis akan menunjukkan perilaku budaya yang dominan akan berdampak atas HP.</p>
<p>Seorang CEO yang mengelola berdasarkan budaya yang prima akan tetap dapat mengarahkan dan menempatkan posisi daur hidup perusahaan yang prima artinya memiliki kemampuan fleksibilitas dan mudah dikontrol yang mampu menciptakan produktivitas yang tinggi.</p>
<p>Kedelapan model budaya dengan memperhatikan HI, HE, HP dapat diuraikan seperti dibawah ini :</p>
<p>BEBAS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku atas peran yang dimainkan oleh para manajer semua tingkatan dimana mereka melepaskan para anggota kelompok<br />
kerjanya bebas bertindak tanpa pengarahan atau kontrol kecuali mereka memintanya, atas dasar rencana kerja dan anggaran yang sudah ditetapkan.</p>
<p>BEBAS PROAKTIF, dalam hal ini para manajer semua tingkatan memainkan peranan diawal dan di akhir untuk melaksanakan pengendalian dan pengawasan secara aktip terhadap semua aktivitas yang dilakukan bawahannya.</p>
<p>Kedua model budaya ini lebih banyak kerugiannya dari pada keuntungan karena setidak-tidaknya ada faktor yang sulit dikendalikan yaitu 1) hal yang terkait dengan struktur tugas atau pekerjaan 2) ketidak pastian sikap dan perilaku pemimpin yang diterapkan 3) ketidak pastian kondisi lingkungan yang dihadapi 4) sulit menentukan kompetensi yang dibutuhkan yang sejalan dengan tenaga yang ada.</p>
<p>OTOKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepemimpinan yang sering dikatakan pula sebagai pemimpin yang terpusat yang bertolak dari power dan authority yang bersumber dari posisi perannya sehingga pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan dan bilamana tugas harus dikerjakan, jadi yang menonjol adalah pemeberian perintah dan menuntut adanya kepatuhan.</p>
<p>OTOKRATIS PROAKTIF, sebaliknya dimana pemimpin dapat memainkan perannya secara lunak atas power dan authority yang dimiliki atas hubungan yang sering bersifat pribadi yang ditandai dengan 1) pemimpin mengetahui yang terbaik 2) ketergantungan pribadi bawahan 3) sangat bersandarkan pada rewards dan rasa aman.</p>
<p>Kedua model budaya ini menunjukkan bahwa dengan harapan untuk meningkatkan produktivitas terutama dalam situasi krisis atau darurat yang bergantung jalur komando, kejelasan pembagian tugas dan sepenunuhnya dimengerti oleh setiap bawahan, tetapi sebaliknya terdapat kelemahan yang mendasar karena komunikasi satu arah yang dapat menimbulkan kesalah pahaman, juga diperlukan pemain peran dengan memiliki keahlian yang tinggi dengan kemampuan mampu membaca seluruh situasi bila tidak dapat menimbulkan sikap dan pe-rilaku pengikut dengan moral yang rendah yang berdampak kepada tingkat produktivitas yang rendah.</p>
<p>BIROKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepimpinan dalam mengelola berdasarkan aturan dan prosedur yang baku (absolute) untuk menggerakkan bawahan mengenai apa dan bagaimana sesuatu itu dilaksanakan dan tidak diperkenankan adanya pengecualian sedikitpun termasuk aspek-aspek teknis.</p>
<p>BIROKRATIS PROAKTIF, sebaliknya peran kepemimpinan bersandarkan kepada aturan dan prosedur tidak memandang secara absolute melainkan bijaksana menerapkannya sesuai dengan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.</p>
<p>Kedua model ini sebenarnya merupakan bentuk lain dari pembentukan otokratis, yang juga memiliki keuntungan yang kita sebut tercip-tanya kekonsistensian kebijakan dan prosedur, tetapi juga memiliki kelemahan seperti kekakuan dalam situasi-situasi di mana diperlukan adanya pengecualian, kelumpuhan bila tidak diatur, tidak beranani mengambil keputusan bersandarkan judgment.</p>
<p>DEMOKRATIS REAKTIF, bentuk budaya perusahaan yang terbentuk dari sikap dan perilaku kepemimpinan yang terpusat kepada bawahan, menegakkan kesederajatan, partisifatip sebagai landasan melaksanakan persuasi dan motivasi yang bertumpu kepada pemikiran dari dalam semata-mata untuk menyelesaikan masalah yang timbul.</p>
<p>DEMOKRATIS PROAKTIF, sebaliknya dimana kepemimpinan akan menekankan kepada pemikiran-pemikiran bagaimana sebaiknya kita menhindari dari masalah artinya mengerakkan dari pngamatan faktor ekstern (lingkungan) yang mempengaruhi satu situasi kedalam untuk selalu siap menghadapi tantangan yang terjadi.</p>
<p>Kedua model ini memang menekankan setiap individu dan kelompok merasakan keterlibatan mereka, dengan demikian maka dengan daya dorong mengajak dan terbuka akan memberikan manfaat orang untuk berkarya dan menumbuhkan kereatifitas, tetapi juga berdampak proses keputusan yang lambat, untuk menutup kelemahan diri kepemimpinan yang berdampak kurang dihargai.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/budayaatr.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/budayaatr.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budayaatr.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budayaatr.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budayaatr.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budayaatr.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budayaatr.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budayaatr.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budayaatr.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budayaatr.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budayaatr.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budayaatr.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=8&subd=budayaatr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budayaatr.wordpress.com/2007/12/19/diagnosis-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img184.imageshack.us/img184/286/44768885eh8.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img176.imageshack.us/img176/6523/90407003nu4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img66.imageshack.us/img66/8302/60884478um9.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img105.imageshack.us/img105/9869/60836633bu0.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img180.imageshack.us/img180/1645/13992868im4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img183.imageshack.us/img183/4309/22335954mn1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img182.imageshack.us/img182/5047/35543607zv2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img295.imageshack.us/img295/2330/58155669kq8.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>B3I DALAM KABINET MIMPI</title>
		<link>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/17/b3i-dalam-kabinet-mimpi/</link>
		<comments>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/17/b3i-dalam-kabinet-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 06:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/17/b3i-dalam-kabinet-mimpi/</guid>
		<description><![CDATA[1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Bertitik tolak dari pemikiran “B3I”, maka dengan menyadari arti penting dari pemahaman “Konsepsi Budaya” dalam kehidupan sebagai penggerak dalam bersikap dan berperilaku diperlukan adanya pedoman yang kita yakini dan percayai dalam mewujudkan kebersamaan pola pikir untuk dilaksanakan.
Berdasarkan pengalaman kita dalam masa lalu dan masa kini, maka dalam kita menyambut masa depan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=6&subd=budayaatr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN</p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran “B3I”, maka dengan menyadari arti penting dari pemahaman “Konsepsi Budaya” dalam kehidupan sebagai penggerak dalam bersikap dan berperilaku diperlukan adanya pedoman yang kita yakini dan percayai dalam mewujudkan kebersamaan pola pikir untuk dilaksanakan.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman kita dalam masa lalu dan masa kini, maka dalam kita menyambut masa depan bahwa dalam melaksanakan pembangunan telah ditunjukkan esensi manusia sangat menentukan dalam pembangunan.</p>
<p><span id="more-6"></span>Oleh karena itu, sebagai langkah awal perlu kita mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dengan kebutuhan akan perubahan yang sejalan dengan apa-apa yang telah dituangkan dalam “B3I”. Kita meyakini bersama bahwa kebutuhan akan terbentuknya suatu “budaya yang kuat” akan memberikan arah persfektif dalam mencapai keadilan dan kemakmuran seperti yang di cita-citakan dalam pembukaan UUD 1945.</p>
<p><!--more-->Jadi siapapun yang memimpin masa depan NKRI haruslah memiliki “Gaya Kepemimpinan” artinya ia memiliki komitmen untuk melaksanakan B3I sebagai pedoman untuk menggerakkan kekuatan berpikir dalam usaha mendekatkan diri kedalam wujud bersikap dan berperilaku demi kepentingan rakyat dari pada kepentingan individu dan kelompok.</p>
<p>Dengan demikian harapan untuk menyatukan proses berpikir kedalam “aktualisasi diri” dalam membangun “manusia seutuhnya” menjadi satu kewajiban dalam kabinet mimpi untuk dilaksanakannya B3I sebagai “kekuatan budaya” yang mampu menggerakan perubahan berpikir secara radikal untuk memenuhi kebutuhan akan perubahan dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Bila gaya kepmimpinan dapat memberikan keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka dengan budaya yang kuat akan menuntun setiap insan dalam usaha untuk menyesuaikan diri sebagai komitmen yang tumbuh dari kekuatan diri sendiri dalam usaha mewujudkan :</p>
<p>Kesadaran akan mengakui dan meyakini esensi keberadaan manusia sesuai dengan perannya memiliki hak dan kewajiban yang sama.</p>
<p>Kesadaran menjalankan peran untuk memenuhi kepentingan umum dari kepentingan Pribadi dan atau klompok.</p>
<p>Kesadaran membangun kebiasaan yang produktif kedalam manusia yang unggul dalam berperan.</p>
<p>2.PERSFEKTIF B3I DALAM KABINET MIMPI</p>
<p>Apa yang harus saya lakukan setelah diangkat menjadi Presiden RI dalam “Kabinet mimpi” ?</p>
<p>Yang terpikirkan adalah mengungkapkan apa yang telah dipikirkan dalam persiapan sebelumnya yaitu rumusan dari pelaksanaan B3I dengan Kepres.RI mengumumkan keputusan strategik yang berkaitan dengan visi, misi, tujuan, budaya, strategi berdasarkan pemikiran intuitif dengan arah pemikiran yang bersifat persfektif. Dibawah ini hanya merumuskan yang berkaitan untuk menjabarkan B3I yang akan menuntun kemana perjalanan yang akan ditempuh dalam usaha untuk merealisasikan keputusan strategik.</p>
<p>VISI B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Maka diperlukan suatu rumusan sebagai suatu pernyataan VISI B3I DALAM KABINET MIMPI sebagai berikut :</p>
<p>“Adalah kemampuan para Menteri dan yang setingkatnya dalam membangun CITRA Bangsa dan Negara dalam pembangunan yang berdemensi manusia seutuhnya berdasarkan B3I yang dilandasi oleh agama dengan kepemimpinan kolaboratif dengan ARAH meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan kedalam aktualisasi diri dalam usaha mewujudkan TUJUAN meningkatkan kebiasaan produktif menjadi nilai tambah sebagai kunci kemakmuran “</p>
<p>Dari pernyataan tersebut mencakup empat ukuran dalam bersikap yaitu:</p>
<p>CITRA dalam bersikap berarti menjalankan setiap peran yang dibebankan kepada yang bersangkutan menghayati keberadaan esensi manusia.</p>
<p>B3I dalam bersikapberarti untuk mampu mengkomunikasikan suara hati berlandaskan agama yang dianutnya kedalam prinsip kepemimpinan kolaboratif.</p>
<p>ARAH dalam bersikap berarti adanya tuntunan kedalam aktualisasi diri.</p>
<p>TUJUAN dalam bersikap berarti menggerakkan tuntunan dalam usaha membangun kebiasaan produktif kedalam pengetahuan, keterampilan dan keinginan untuk mewujudkan nilai tambah.</p>
<p>MISI B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Pernyataan VISI tersebut menggambarkan peta perjalanan, sebaliknya dalam pernyataan MISI menyatakan bagaimana sarana itu disiapkan dalam menuju arah yang dituju, dengan pernyataan MISI B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>“Adalah kemampuan menteri dan yang setingkatnya dalam menjalankan peran untuk MEMPERHATIKAN kepekaan perilaku untuk membangun saling menghormati, mempercayai dan menghargai dengan MEMBIMBING kearah kebiasaan produktif, keyakinan dan konsistensi dengan penguasaan berpikir ANALITIS TRATEGIS dalam mengidentifikasi situasi kedalam rumusan masalah (kritis, pokok dan insidentil) dan bersifat EKSPRESIF dalam inisiatif, kreatifitas dalam pemecahan masalah masa depan”.</p>
<p>Dari pernyataan tersebut mencakup empat ukuran dalam berperilaku yaitu :</p>
<p>MEMPERHATIKAN dalam berperilakuberartimembangun kepekaan dalam kebutuhan hubungan yang harmonis.</p>
<p>MEMBIMBING dalam berperilaku berarti membangun kebiasaan produktif, keyakinan, konsistensi dalam memahami keberadaan manusia.</p>
<p>ANALITIS STRATEGIS dalam berperilaku berarti memiliki kemampuan mengidentifikasi peluang dalam usaha menghindari masalah.</p>
<p>EKSPRESIF dalam berperilaku berarti mendorong inisiatif, kreatif dalam pemecahan masa depan.</p>
<p>TUJUAN B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Untuk merealisasikan visi dan misi yang dikemukakan diatas, maka perlu dirumuskan kedalam tujuan-tujuan kualitatip dengan penjabaran sbb. :</p>
<p>Merumuskan landasan penglolaan pemerintahan berbasiskan B3I yang kuat dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Merumuskan B3I kedalam budaya yang adaptif.</p>
<p>Merumuskan landasan yang kuat untuk mengakui keberadaan manusia sebagai esensi yang penting dalam melaksanakan pmbangunan.</p>
<p>Merumuskan pembangunan yang berkelanjutan dalam hukum, ekonomi, politik, agama, pendidikan, sosial dan budaya, sumber daya alam dan lingkungan hidup, pertahanan dan kemanan dan daerah.</p>
<p>Merumuskan kreteria-kreteria dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas dalam melaksanakan pembangunan nasional yang berencana.</p>
<p>SASARAN, STRATEGI, KEIJAKSANAAN, PROGRAMB3I</p>
<p>DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan diatas, diperlukan rumusan berdasarkan pemikiran jangka panjang dengan menggambarkan posisi masa depan melalui analisis SWOT kedalam SASARAN yang hendak dicapai yang dituangkan secara kuantitatip dan kualitatip untuk jangka waktu lima tahun.</p>
<p>Untuk mewujudkan sasaran yang telah dirumuskan, maka perlu ditetapkan STRATEGI fokus sebagai kekuatan dalam membangun kebiasaan yang produktif dengan membangun wujud kebersamaan kedalam kepercayaan dan keyakinan menuju perubahan sikap dan perilaku dalam menghadapi tantangan dalam abad 21.</p>
<p>Oleh karena itu harus jelas merumukan stategi kedalam iklim organisasi, kolaborasi, komitmen dan pemberdayaan diri melalui rumusan apa yang disebut dengan KEBJAKSANAAN sebagai sarana untuk melaksanakan strategi, sehingga pelaksanaannya dituangkan kedalam yang kita sebut dengan PROGRAM yang disusun apa yang disebut dengan “matriks kebijaksanaan program pembangunan B3I yang berisikan dalam satu table mengenai “arah kebijaksanaan ; sifat program ; indicator kinerja”</p>
<p>3. MERUMUSKAN B3I KEDALAM NILAI, NORMA, WEWENANG</p>
<p>DAN GANJAR DALAM KABINET MIMPI</p>
<p>Dengan memperhatikan rumusan persfektif B3I dalam Kabinet Mimpi, maka sebagai wahana transformasi dalam pola berpikir yang akan menuntun sikap dan perilaku anggota kabinet dan setingkatnya dalam berintraksi dalam organisasi kabinet diperlukan kejelasan bagi setiap individu sesuai dengan perannya agar dapat menyeberangi kesenjangan B3I dalam Kabinet Mimpi versusRencana persfektif (Rencana jangka panjang), Posisi (Rencana Lima Tahun) dan Kinerja (Rencana Tahunan).</p>
<p>Berdasarkan pemikiran diatas, maka budaya formal kabinet dibangun atas dasar pemahaman yang mendalam mengenai aktualisasi diri kepemimpinan kolaboratif artinya suatu pendekatan dalam usaha mewujudkan kebersamaan dalam memandang suatu yang tidak hanya dalam hubungan atas bawah melainkan juga situasional dalam keterlibatan individu dalam organisasi diperlukan rumusan dari keempat unsur berupa nilai, norma, wewenang dan ganjar yang membentuk B3I dalam Kabinet Mimpi, dapat dituangkan dalam suatu pemikiran sebagai berikut :</p>
<p>NILAI B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Bertitik tolak dari nilai-nilai yang tertuang dalam budaya bangsa dan negara Indonesia (B3I) yang harus kita pahami bersama sebagai landasan dalam kita bersikap dan berperilaku sebagai nilai primer yang telah disepakati bersama yang tercantum dalam 45 butir nilai pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila (P4) yang mencakup kedalam 1) Ketuhanan yang maha esa mencakup 7 butir; 2) Kemanuiaan yang adil dan beradab mencakup 10 butir; 3) Persatuan Indonesia mencakup 7 butir; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan mencakup 10 butir; 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mencakup11 butir. Selanjutnya rinciannya dapat dilihat pada P4.</p>
<p>Untuk mendukung pelaksanaan nilai-nilai primer menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan berperilaku diperlukan nilai lainnya yang kita sebut dengan Nilai-nilai skunder.</p>
<p>Yang kita maksudkan dengan nilai sekunder adalah nilai-nilai yang dapat membentuk terwujudnya kebiasaan produktif dalam menjalankan peran pada organisasi kabinet agar suasana keharmonisan di tempat kerja kolaboratif dapat diciptakan dari sikap dan perilaku yang mampu dalam kesiapan untuk menyesuaikan diri dari kebutuhan pengaruh faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi dalam proses berpikir.</p>
<p>Jadi nilai-nilai skunder utama yang perlu ditumbh kembangkan kedalam organisasi kabinet adalah yang mencakup :Imajinatif, Konseptual, Kreatif Intuitif, Pengambilan keputusan empiris, Fokus, Sensitivitas, Penguasaan teknologi informasi, Kooperatif, Empati, Menghargai, Intergritas dan Kehormatan, Konsensus, Hubungan berdasarkan keyakinan dan kepercayaan, Tanggung jawab dan akuntabilitas, Terbuka, Divergen, Interpersonal,Evolusioner</p>
<p>NORMA B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Dengan landasan nilai-nilai primer dan skunder yang telah kita pahami, maka seluruh NORMA yang terumuskan dalam kebijakan manajemen sumber daya manusia sebagai NORMA yang terumuskan itu menjadi tuntunan setiap orang yang sesuai dengan perannya yang sejalan dengan menciptakan tim kolaboratif. Dengan demikkian norma menjadi aturan yang mengikat sebagai panduan, tatanan dan kendali dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Oleh karena itu, NORMA yang dirumuskan dalam struktur tempat kerja kolaboratif artinya akan menjawab hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan What to do ; Why to do it ; How to do it ; When to do it., sehingga merupakan proses terbuka dimana semua anggota menyadari arti keberadaan mereka dalam struktur kabinet.</p>
<p>Sejalan dengan pemikiran diatas, maka norma-norma yang dirumuskan itu menyangkut hal-hal proses tim kolaboratif yang disebutkan dibawah ini</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai tugas atau fungsi tim.</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai peran dan tanggung jawab tim.</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai menciptakan kebersamaan dalam sikap dan perilaku untukmenjalankan kegiatan operasi.</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai pedoman uraian pekerjaan.</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai faktor kunci kesuksesan.</p>
<p>Harus ada kejelasanmengenai rencana kerja berkesinambungan.</p>
<p>Harus ada kejelasan mengenai kebutuhan kompentensi.</p>
<p>Dengan pemkiran tersebut, maka nilai-nilai yang dituangkan kedalam norma-norma seperti yang kita utarakan diatas yang terkait dengan batang tubuh UUD ’45 yang digerakkan oleh manusia, maka dalam merumuskannya tidak terlepas dengan memperhatikan dalam pola dasar manajemen sumber daya manusia yang akan mencakup kedalam sub sistem :</p>
<p>Sistem perencanaan SDM</p>
<p>Sistem penerimaan dan penempatan</p>
<p>Sistem mutasi</p>
<p>Sistem promosi</p>
<p>Sistem kepangkatan dan jalur karir</p>
<p>Sistem pengembangan kompetensi</p>
<p>Sistem pendidikan dan pelatihan</p>
<p>Sistem penilaian dan pengembangan prestasi kerja pegawai</p>
<p>Sistem penggajian dan fasilitas</p>
<p>Sistem pelayanan kesehatan</p>
<p>WEWENANG B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Wewenang dalam arti kemampuan untuk mengambil keputusan sesuai dengan nilai dan norma yang telah dirumuskan diatas maka wewenang haruslah dipandang sebagai kekuasaanyang syah untuk melaksanakan peranan sesuai dengan jabatan untuk mewujudkan harapan-harapan selaras dengan B3I.Wewenang merupakan wahana untuk memasyarakatkan nilai-nilai dan norma-norma dalam budaya fomal kabinet.</p>
<p>Unsur WEWENANG dalam budaya formal kabinet haruslah terumuskan secara jelas dalam deskripsi organisasi formal. Organisasi formal kabinet terbangun kedalam suatu pola organisasi berbasiskan pengetahuan sehingga terwujudlah organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol dengan landasan yang kuat dari unsur wewenang yang akan menuntun setiap orang dalam bersikap dan berperilaku menjadi suatu stuktur kolaboratif.</p>
<p>Bertitik tolak dari rumusan nilai dan norma, maka sebagai pola dasar dalam perumusan wewenang sebagai landasan akan terkait kedalam struktur organisasi formal yang bersifat fleksibel dan mudah dikontrol artinya sebagai unsur budaya organisasi berbangsa dan bernegara , maka wewenang harus mampu bergerak sesuai dengan perubahan tuntutan lingkungan.</p>
<p>Untuk memenuhi tuntutan tersebut diperlukan pensyaratan dalam merumuskannya yang terkait dengan struktur dalam peran eksekutif, legislatif dan yudikatif sebagai organisasi penyelenggara Negara yang mencakup hal-hal yang kita sebutkan dibawah ini :</p>
<p>Organisasi penyelenggaraan Negara dan unit-unit kerja harulah dibangun berbasiskan pengetahuan dan pembelajaan dengan pendekatan sistem.</p>
<p>Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unitkerja harus dibangun kedalammodel jaringan, datar, fleksibel, global.</p>
<p>Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unit kerja harus dibangun memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan : Tim sebagai unit dasar organisasi ; Jaringan bersama lingkungan ; Alur informasi secara horizontal dan vertical ; Penekanan pada proses, hasil dan kepentingan stakeholders ; Waktu kerja fleksibel ; Jalur karir fleksibel ; Sistem ganjar dan evaluasi disesuaikan ; Fokus dan spesialisasi ; Lingkungan dipandang sebagai global dan internasional.</p>
<p>Organisasi harus dibangun kedalam iklim organisasi yang sehat, sehingga tercipta perilaku organisasi bernegara dan berbangsa yang dapat menjadi daya dorong keseimbangan individu, kelompok dan organisasi.</p>
<p>Organisasi penyelenggara Negara dan unit-unit kerja engan karekteristik yang kita kemukakan diatas dapat memberikan daya dorong kedalam tantangan organisi kedalam pengembangan keahlian individu, pengelolaan organisasi dan pengelolaan lingkunga..</p>
<p>GANJAR B3I DALAM KABINET MIMPI :</p>
<p>Ganjar dalam arti imbalan yang diberikan secara wajar dan adil baik bersifat finansial maupun non finansial. Atau dengan kata lain ganjar adalah imbalan dalam bentuk penghargaan atas prestasi positip atau hukuman atas prestasi negatif. Sistim pemberian ganjar mendorong terwujudnya budaya yang menuntun sikap dan perilaku dan tercapainya sasaran organisasi dalam bernegara sebagai manusia yang seutuhnya.</p>
<p>Oleh karena itu, ganjar dalam budaya kabinet haruslah terumuskan secara jelas dalam sistem manajmen sumber daya manusia kedalam sistem iklim organisasi, sistem imbal jasa dan penghargaan, sistem disiplin dsb.</p>
<p>Sejalan depikiran yang kita kemukakan diatas serta memperhatikan perubahan paradigma sumber daya manusia kedalam “Isu Ganjar” mngenai :</p>
<p>Isu Ganjar :Org. Lama :Org. Baru :</p>
<p>Jalur karirLinierFleksibel</p>
<p>PromosiSenioritasKeahlian</p>
<p>PembayaranTingkatanKeahlian</p>
<p>Jam kerjaTetapFleksibel</p>
<p>KomitmenWaktu pakaiInsiatif</p>
<p>Oleh karena itu, dalam merumuskan ganjar kedalam B3I, akan terkait kedalam pola dasar manajmen sumber daya manusia</p>
<p>Pola dasar dalam perumusan ganjar akat terkait kedalam pola yang akan mencakup sub sistem :</p>
<p>Sistem pembinaan SDM</p>
<p>Sistem disiplin SDM</p>
<p>Sistem pemberhentian pegawai</p>
<p>Sistem Pensiun dan kesejahteraan hari tua</p>
<p>Sistem kreatifitas individu, kelompok menjadi inovasi organisasi</p>
<p>Jadi rumusan nilai menjadi landasan norma dan norma menjadi landasan wewenang sehingga ketiga unsur tersebut yang membangun ganjar kedalam B3I dalam kabinet mimpi sebagai unsur penentu.</p>
<p>Oleh karena itu keempat unsur tersebut membentuk satu kesatuan dan memiliki sifat saling ketergantungan kedalam B3I sebagai suatu sistem dalam membentuk sikap dan perilaku yang menjadi unsur penentu dalam mewujudkan manusia yang seutuhnya artinya memiliki kredibilitas dalam berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Dengan terwujudnya kredibilitas dari suatu bangsa dalam bernegara akan menjadi cerminan kemampuan bangsa dan Negara dalam melaksanakan pembangunan seperti apa yang diamanatkan dalam UUD ’45. Hal ini hanya bisa terjadi apabila semua warga memahami arti hidup berbangsa dan bernegara Indonesia atas dasar pemahaman untuk melaksanakan B3I DALAM KABINET MIMPI yang akan sejalan dengan kemampuan mereka mendapatkan kejelasan, kebersamaan dan intergritas</p>
<p>4. LANGKAH MELAKSANAKAN B3I DALAM KABINET MIMPI</p>
<p>Untuk merampungkan semua gagasan dalam melaksanakan B3I dalam kabinet mimpi, maka setiap anggota kabinet sebelum diangkat, dimintakan kemampuan untuk merumuskan rencana jangka panjang dengan menjabarkan tujuan kabinet kedalam sasaran-sasaran yang hendak dicapai secara kuantitatif dan kualitatif, program dan jadwal pencapaiannya.</p>
<p>Sasaran yang dirumuskan sejalan dengan peran dan tanggung jawab yang akan diserahkan dan prioritas yang telah digariskan, maka perlu pula adanya rumusan yang dapat menuntun untuk melaksanakan keputusan strategik yang telah dikemukakan diatas kedalam penjabaran dari strategi dasar agar sikap dan perilaku sejalan dengan tuntunan perubahan pola pikir.</p>
<p>Dalam usaha untuk menyeberangi kesenjangan dari pola pikir lama menuju ke pola pikir baru dengan memperhatikan keputusan strategik yang mencakup visi,misi, tujuan dan sasaran dalam budaya organisasi formal cabinet mimpi, maka dibawah ini dirumuskan strategi sebagai landasan untuk merumuskan kebijaksanaan dan program perencanaan, proses dan transformasi atas pelaksanaan perubahan budaya sebagai berikut :</p>
<p>Strategi mengelola kabinet berbasiskan budaya organisasi yang responsip artinya sikap dan perilaku yang selalu siap mengadaptasi setiap perubahan.</p>
<p>Strategi mengelola kabinet berbasiskan iklim organisasi yang kondunsif artinya organisasi dibangun dengan infrastruktur yang mendorong setiap orang memahami atas kehadirannya dalam organisasi.</p>
<p>Strategi mengelola kabinet berbasiskan pemanfaatan teknologi informasi kedalam pengetahuan dan pembelajaran.</p>
<p>Strategi mengelola kabinet berbasiskan perubahan berencana secara berkesinambungan.</p>
<p>Strategi mengelola kabinet berbasiskan kepemimpinan kolaboratif dan good governance.</p>
<p>Sejalan dengan kesiapan untuk melaksanakan strategi-stratgi tersebut diatas, maka dalam proses kesiapan melaksanakan pola pikir baru diperlukan pula ksiapan dalam melaksankan hal-hal sebagai berikut :</p>
<p>Membangun komitmen.</p>
<p>Memimpin Perubahan.</p>
<p>Mengkomunkasikan apa yang diinginkan dalam perubahan.</p>
<p>Mengelola dan membangun partisipasi.</p>
<p>Merumuskan prinsip dalam proses perubahan</p>
<p>Merumuskan prinsip dalam proses transformasi.</p>
<p>Merumuskan prinsip perbaikan erkelanjutan.</p>
<p>5. KESIMPULAN<br />
Bukanlah sesuatu yang gampang dalam melaksanakan transformasi secara fokus untuk mendapatkan kebersamaan dalam kebiasaan karena kita dapat</p>
<p>menyadari sepenuhnya bahwa kebiasaan itu tumbuh dan berkembang sejalan</p>
<p>dengan sikap dan perilaku dalam kehidupannya.</p>
<p>Mengkomnikasikan dengan baik suatu keputusan perubahan yang berkaitan dengan lapisan budaya, sehingga semua usaha-usaha diperlukan kesamaan dalam pola pikir untuk membangun kebiasaan yang produktif akan sangat menentukan arti keberadaan manusia yang berperan dalam dimensi pembangunan, yang berarti kunci keberhasilan kita dalam pemangunan ekonomi ditentukan oleh manusia yang memiliki kredibiltas sebagai manusia yang seutuhnya.</p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dalam membangun kebiasaan yang produktif akan terwujud bila sikap dan perilaku memberikan motivasi untuk meningkatkan wawasan melalui ilmu dari informasi, keterampilan dari pengalaman dan keinginan dari niatyang akan menuntun usaha-usaha untuk melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan :</p>
<p>Pertama, kemampuan untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam proses berpikir dari gaya lama ke gaya baru.</p>
<p>Kedua, mendorong untuk melepaskan pola pikir lama dengan kemampuan untuk merumuskan dengan gaya baru untuk dapat mendorong dalam memanfaatkan pemikiran yang menuju keberhasilan.</p>
<p>Ketiga, merumuskan tindakan baru dalam pola proses berpikir baru yang sejalan dengan membangun kebiasaan yang produktif.</p>
<p>Jadi dengan fokus membangun kebersamaan kebiasaan melalui tiga langkah yang disebutkan diatas, diharapkan mampu menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal dalam proses berpikir dalam melaksanakan Visi dan Misi, Tujuan, Strategi B3I dalam kabinet mimpi yang telah dirumuskan dan dipahami bersama.</p>
<p>Sesuatu yang sangat menentukan dalam menggerakkan sikap dan perilaku yang terpola diperlukan pula kebersamaan dalam keyakinan agar aktualisasi dari kebiasaan yang produktif berjalan seperti yang diharapkan.</p>
<p>Keyakinan itulah sebagai perekat dalam memberikan motivasi dalam proses berpikir untuk menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal agar kesiapan untuk melaksakan perubahan dalam sikap dan perilaku dapat diterima menjadi komitmen yang datang dari diri sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan.</p>
<p>Dengan tumbuh dan berkembangnya keyakinan pada diri berarti akan selalu mengingatkan disatu sisi mengnai apa yang telah kita perbuat dan disisi lain secara konsisten kita harus terus membangun kebersamaan agar terwujud keikutan semua individu dalam melaksanakan perubahan.</p>
<p>Jadi bila setiap individu merasakan manfaat dalam melaksanakan perubahan, maka kita harus mengambil pengalaman tersebut untuk bersyukur pada sikap dan perilaku yang selalu siap menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu.</p>
<p>Dengan demikian fokus membangun kebersamaan dalam keyakinan adalah sesuatu tuntutan yang terus kita dorong dan komunikasikan agar tercipta adanya keyakinan yang sesungguhnya, bukan sekedar untuk memenuhi panggilan semata melainkan sudah merupakan kebutuhan.</p>
<p>Setelah kita memiliki kebersamaan dalam kebiasaan yang produktif dan keyakinan, maka diperlukan pula daya dorong apa yang disebut dengan konsistensi dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Jadi dengan adanya ketetapan hati setiap terjadi perubahan, maka ia akan dapat memberikan konstribusinya yang terbaik yang sejalan dengan putusan yang diambil sehingga ia dalam bersikap dan berperilaku akan selalu pada keinginan untuk menunjukkan keuletan dalam proses berpikir untuk tidak mudah dibawa oleh arus ketidakpastian dalam bertindak yang dapat merubah sikap dan perilaku.</p>
<p>Dengan wujud konsistensi yang telah tertanam dalam pola proses berpikir diharapkan setiap orang merasakan manfaat dari sikap dan perilaku dalam memberikan inspirasi secara terus menerus agar setiap individu menjadikan diri lebih berharga sehingga akan berdampak dalam konstribusinya yang lebih besar.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/budayaatr.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/budayaatr.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budayaatr.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budayaatr.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budayaatr.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budayaatr.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budayaatr.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budayaatr.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budayaatr.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budayaatr.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budayaatr.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budayaatr.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=6&subd=budayaatr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/17/b3i-dalam-kabinet-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUDAYA BERBANGSA DAN BERNEGARA (B3I)</title>
		<link>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/budaya-berbangsa-dan-bernegara-b3i/</link>
		<comments>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/budaya-berbangsa-dan-bernegara-b3i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 03:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/budaya-berbangsa-dan-bernegara-b3i/</guid>
		<description><![CDATA[1. LATAR BELAKANG PEMIIRAN
Kita menyadari sepenuhnya perang kemerdekaan dimulai dengan Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.
Namun demikian perlu kita sadari bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan yang dimulai dari pergerakan nasional pada permulaan abad ke-20 dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perjuangan yan sebelumnya dilaksanakan secara sedaerah-daerah, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=5&subd=budayaatr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. LATAR BELAKANG PEMIIRAN</p>
<p>Kita menyadari sepenuhnya perang kemerdekaan dimulai dengan Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.</p>
<p>Namun demikian perlu kita sadari bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan yang dimulai dari pergerakan nasional pada permulaan abad ke-20 dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perjuangan yan sebelumnya dilaksanakan secara sedaerah-daerah, namun terdapat pebedaan kualitatif dalam perjuangan dimana unsur modernisasi mempengaruhi pola berpikir.</p>
<p><span id="more-5"></span>Tapi perlu untuk diingat bahwa penjajahan Belanda mempengaruhi proses perubahan dalam bersikap dan berperilaku dalam memasuki proses modernisasi. Proses itu tidak berakhir setelah kita mengakhii penjajahan Belanda, melainkan kita melanjutkan dan meningkatkan proses modernisasi itu dalam pembinaan bangsa.</p>
<p>Disatu sisi kita menyadari satu sumber kekuatan selama perjuangan kenmerdekaan ialah kemampuan bangsa kita untuk memelihara dan terus meningkatkan perastuan dan kestuan nsional kita sambil menghormati secara wajar keanekaragaman dalam rangka persatuan dan keatuan nasional itu. Hal itu paling nyata dilambangkan oleh PANCASILA tidak hanya dasar Negara secara formal saja, tetapi juga telah menempa identitas bangsa kita.</p>
<p>Disisi lain bahwa dalam perjuangan kemerdekaan kita yang telah disusul oleh pembinaa bangsa, revolusi dan pembangunan yang diiukuti perubahan dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi tidak menunjukkan perhatian yang terfokuskan mengenai “pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan”. Dapat kita baca hal tersebut yang ditulis oleh para pemikir seperti Soejatmoko dalam bukunya “Dimensi manusia dalam pembangunan”, Prof Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan”, Mochtar Lubis dalam bukunya “ Manusia Indonesia”</p>
<p>Apa yang terjadi, para pemikir tidak lepas dari perdebatan yang dikenal “Polemik Kebudayaan” kearah mana pengembangan dan perkembangan Kebudayaan Nasional Indonesia seharusnya berkiblat ? budaya barat atau arah budaya yang sudah mentradisi di dunia timur khususnya di bumi Nusantara ?</p>
<p>Polemik yang berkepanjangan tidak jelasnya rumusan tentang “budaya berbangsa dan bernegara Indonesia” dalam menafsirkan seperti yang termuat dalam UUD ’45 yang tertuang dalam pasal 32 “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia” (sebelum dirubah) serta uraian dalam penjelasan yang berbunyi “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya Rakyat Indonesia seluruhnya.” “Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kea rah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari ebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan</p>
<p>Pasal tersebut terdapat perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002, yang berbunyi “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya” “(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”</p>
<p>Dari rumusan atas perubahan yang diungkapkan diatas hanyalah mendorong adanya pemikiran polemik yang berkepanjangan dan hal itu yang diinginkan oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tuntunan dalam kebersamaan dalam bersikap dan berprilaku dalam mengaktualisasikan kesatuan dalam pemikiran yang tidak memiliki budaya berbangsa dan bernegara.</p>
<p>2. PENDEKATAN SEBAGAI RUMUSAN KONSEPSI</p>
<p>Untuk merumuskan suatu konsepsi sebagai pola berpikir dalam merumuskan satu gagasan atau idea yang dapat dipergunakan sebagai landasan, maka dieprlukan satu pendekatan.</p>
<p>Pendekatan yang kita maksudkan disini “menguraikan huruf dari kata dan merumuskan menjadi kata bermakna kedalam sutua untaian kalimat yang dapat mendorong dalam bersikap dan berperilaku” dalam proses kemampuan berpikir.</p>
<p>Kata-kata yang hendak dirumuskan disini adalah BUDAYA, BERBANGSA, BERNEGARA, INDONESIA, dngan uraian sebagai berikut ;</p>
<p>Kata BUDAYA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :</p>
<p>B menjadi kata bermakna (B)ERPIKIR</p>
<p>U menjadi kata bermakna (U)SAHA-USAHA</p>
<p>D menjadi kata bermakna (D)AYA CIPTA</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)MANAH</p>
<p>Y menjadi kata bermakna (Y)AKIN</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)GAMA</p>
<p>BUDAYA Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan adalah kemampuan seseorang dalam BERPIKIR untuk dapat menggerakkkan USAHA-USAHA dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal untuk menciptakan DAYA CIPTA dalam menjalankan AMANAH yang berlandaskan ke -YAKINAN dengan AGAMA yang dianutnya.</p>
<p>Kata BERBANGSA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :</p>
<p>B menjadi kata bermakna (B)ERJIWA</p>
<p>E menjadi kata bermakna (E)TIKA</p>
<p>R menjadi kata bermakna (R)UKUN</p>
<p>B menjadi kata bermakna (B)BERBUDI</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)QLAK</p>
<p>N menjadi kata bermakna (N)URANI</p>
<p>G menjadi kata bermakna (G)ERAKAN</p>
<p>S menjadi kata bermakna (S)OSIAL</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)DIL</p>
<p>Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERBANGSA adalak manusia yang BERJIWA dengan landasan ETIKA, ke-RUKUNAN, BERBUDI, ber-AQLAK mulia dalam menjalankan hati NURANI sebagai suatu GERAKAN dalam mewujudkan makna SOSIAL dan ADIL.</p>
<p>Kata BERNEGARA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :</p>
<p>B menjadi kata bermakna (B)ERSATU</p>
<p>E menjadi kata bermakna (E)MOSIONAL</p>
<p>R menjdi kata bermakna (R)ASIONAL</p>
<p>N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL</p>
<p>E menjadi kata bermakna (E)KLEKTIS</p>
<p>G menjadi kata bermakna (G)ABUNGAN</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)NTAR</p>
<p>R menjadi kata bermakna (R)AS</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)GAMA</p>
<p>Bila kta-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERNEGARA adalah keinginan yang berlandaskan niat untuk BERSATU secara EMOSIONAL dan RASIONAL dalam membangun rasa NASIONALIEME secara EKLEKTIS kedalam sikap dan perilaku ANTAR yang berbeda RAS dan AGAMA..</p>
<p>Kata INDONESIA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :</p>
<p>I menjadi kata bermakna (I)NTERGERASI</p>
<p>N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL</p>
<p>D menjadi kata bermakna (D)AERAH</p>
<p>O menjadi kata bermakna (O)RGANISASI</p>
<p>N menjadi kata bermakna (N)EGARA KESATUAN</p>
<p>E menjadi kata bermakna (E)KONOMI</p>
<p>S menjadi kata bermakna (S0EJAHTERA</p>
<p>I menjadi kata bermakna (I)MPIAN</p>
<p>A menjadi kata bermakna (A)MANAH</p>
<p>Bila kata-kata trsbut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan INDOESIA adalah wilayah kepulauwan yang ter-INTERGERASI secara NASIONAL dari DAERAH daratan dan lautan kedalam ORGANISASI berbentuk NEGARA KESATUAN untuk melaksanakan pembangunan EKONOMI dalam mewujudkan masyarakat SEJAHTERA sebagi realisasi IMPIAN yang di-AMANAHKAN oleh UUD ’45.</p>
<p>Berdasarkan pendekatan yang kita utarakan diatas, diharapkan dapat dipergunakan untuk menyusun suatu konsepsi yang dapat dipergunakan untuk menyatukan sudut pandang dalam kita merumuskan, apa yang telah tertuang dalam pasa 32 UUD ’45 sebelum diadakan perubahan.</p>
<p>Degan sudut pandang itu, kita harapkan kita dapat menyatukan pola berpikir dalam merumuskan visi, misi, tujuan, strategi dalam mengaktualisasikan BUDAYA BERBANGSA BERNEGARA INDONESIA sebagai pedoman dalam kita bersikap dan berperilaku dalam menjalankan fungsi, pekerjaan, kerja, jabatan, peran dan tanggung jawab dalam berbangsan dan bernegara.</p>
<p>3. PERSFEKTIF BUDAYA DALAM KOMUNITAS BERNEGARA</p>
<p>B3I adalah wujud sikap dan perilaku sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam kemampuan memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal kedalam usaha mengaktualisasikan makna Budaya Berbangsa Bernegara Indonesia sebagai pedoman yang harus dianut selaku warga Negara.</p>
<p>Konsepsi tersebut mendorong kita untuk memahami apa arti me masuki abad 21, suatu abad yang telah ditandai oleh perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan. Perubahan tersebut menunjukkan pula, perlunya satu usaha untuk melakukan pendekatan baru dalam mewujudkan daur hidup organisasi Negara yang selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian yang selalu ada dimana-mana.</p>
<p>Waktu berjalan terus, era globalisasi merupakan tantangan di abad ini, maka dalam memasuki dunia tanpa batas diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan mengelola organisasi negara berbasiskan budaya berbangsa dan bernegara Indonesia. B3I sebagai wajah baru haruslah mampu mengantisipasi dan mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang selaras dengan keputusan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran, strategi).</p>
<p>Kepemimpinan nasional silih bergati dan menerapkan gayanya sendiri , sehingga ada satu kesan B3I bukanlah penentu keberhasilan, sehingga pada saat ia mencanangkan suatu gagasan untuk dilaksanakan, ia beranggapan sama luasnya dengan fungsi perencanaan itu sendiri tapi mereka tidak memahmi dari sisi hal yang konkrit. Jadi yang menentukan keberhasilan terletak pada dimensi manusia.</p>
<p>Oleh karena itu adanya anggapan yang menganggap sama mudah menyebar seperti sistem gayanya kedalam pengikutnya, yang mendorong orang tidak pernah fokus untuk memikirkannya secara konsepsional arti penting keberadaan B3I. B3I tidak pernah dirumuskan sehingga organisasi negara sebagai satu pendekatan adalah sangat penting untuk diterapkan dan diperlukan seorang yang mampu berperan untuk mengkomunikasikan dengan baik dengan tanggung jawab bersama dengan satu pola pikir bahwa suatu organisasi NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) sebagai pondasi yang efektif adalah visi dan misi yang sejalan dengan B3I yang dianutnya.</p>
<p>Jadi berdasarkan pemikiran diatas, sudah saatnya suatu NKRI memiliki konsepsi B3I yang jelas, sehingga dapat diambil kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku untuk menyelaraskan kedalam kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dalam bertindak sesuai dengan tuntunan yang telah kita rumuskan dalam melaksanakan pembangunan ekonomi yang berdemensi manusia Indonesia seutuhnya.</p>
<p>Untuk mengkomunikasikan B3I tersebut diperlukan langkah-langkah agar konsepsi B3I yang dituangkan secara formal diperlukan keterlibatan semua warga Negara Indonesia untuk memahami dan mempelajari sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bernegara.</p>
<p>VISI, MISI DAN TUJUAN B3I</p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran intuitif, maka diperlukan satu pernyataan singkat agar dapat menuntun arah yang hendak kita tuju di masa depan yang kita sebut dengan satu pernyataan sebagai berikut :</p>
<p>“VISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia membangun CITRA sebagai manusia yang unggul berdasarkan pelaksanaan pemahaman yang mendalam atas B3I yang di formalkan atas kesepakatan bersama sebagai penuntun dalam bersikap menuju ke ARAH kesiapan yang mampu memasuki setiap perubahan dengan TUJUAN membangun manusia Indonesia seutuhnya”</p>
<p>“MISI B3I adalah kesiapan manusia untuk MEMPERHATIKAN dalam mengkomunikasikan suasana hati dalam kehangatan agar supaya dalam usaha MEMBIMBING untuk membangunan keyakinan dan kepercayaan dengan pemahaman yang mendalam melalui ANALISA STRATEGIK berdasarkan data dan fakta kedalam gagasan masa depan secara EKSPRESIF dalam menuntun inisiatif, spontan, bersemangat dan kreatif”</p>
<p>Jadi dengan pernyataan VISI B3I memberikan arah sebagai peta perjalanan dalam bersikap sedangkan MISI B3I memberikan petunjuk bagaimana cara kita mengadakan perjalanan dalam berperilaku.</p>
<p>Dengan demikian apa yang telah diuraikan bahwa VISI disatu sisi mengingatkan kepada kita dalam bersikap (cara anda mengkomunikasikan suasana hati anda kepada orang lain) selalu dalam pemikiran yang positip, sedangkan disisi lain bahwa MISI dalam Perilaku (segala tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme) sebagai wahana transformasi dalam pola berpikir yang akan menuntun bagaimana organisasi bernegara menyeberangi kesenjangan B3I VS RENCANA PERSFEKTIF, POSISI DAN KINERJA.</p>
<p>Bertitik tolak dari Visi dan Misi B3I yang diutarakan diatas sebagai penuntun, maka diperlukan pula rumusan yang jelas TUJUAN-TUJUAN yang hendak dicapai dalam B3I yang mencakup :<br />
Meletakkan landasan yang kuat dalam B3I yang diformalkan dengan Undang-undang yang sejalan dengan UUD 1945 setelah dan sesudah di amendemen sebanyak empat kali.<br />
Merumuskan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah untuk lebih jelas sebagai peraturan pelaksaan dari Undang-undang yang ditetapkan yang menyangkut unsur-unsur Nilai, Norma, Wewenang dan Ganjar sebagai payung untuk merumuskan B3I kedalam struktur penyelenggara Negara sebagai eksekutif, legislatif dan yudikatif.<br />
Merumuskan Instruksi Presiden RI. yang menetapkan kewajiban setiap unit kerja lembaga pemerintahan dari pusat dan daerah termasuk pelaku ekonomi Negara untuk menyusun pedoman budaya sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku.<br />
Mentransformasikan B3I dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi dimensi manusia dalam pembangunan.<br />
Merumuskan kreteria-kreteria B3I dalam keberhasilan untuk dapat mewujudkan pengaruh dari budaya yang kuat untuk menuntun dalam bersikap da berperilaku.<br />
Merumuskan proses pengambilan keputusan dalam menghindari masalah sebagai kekuatan budaya baru.<br />
Merumuskan pemecahan masalah masa kini dan masalah masa lampau berbasiskan B3I yang merubah pola pikir reaktif menjadi proaktif dengan mengidentifikasi pengelompokan masalah yang kritis, pokok dan insidentil.<br />
Merumuskan langkah-langkah yang jelas dengan proses merancang perubahan yang berencana, proses transformasi dan proses dalam peningkatan yang berkelanjutan.<br />
SASARAN, STRATEGI, KEBIJAKSANAAN, PROGRAM</p>
<p>Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara kualitatip maka perlu menjabarkannya kedalam SASARAN secara kuantitatip. Rumusan sasaran yang hendak dicapai sejalan dengan struktur organisasi formal dari suatu komunitas.</p>
<p>Untuk merealisasikan sasaran tersebut diperlukan suatu konsep STRATEGI yang jelas artinya melaksanakan strategi fokus sebagai kekuatan dalam membangun kebiasaan yang produktif kedalam iklim organisasi, kolaborasi, komitmen, dan pemberdayaan diri sebagai wujud membangun kebersamaan kedalam kepercayaan dan keyakinan menju perubahan sikap dan perilaku.</p>
<p>Untuk melaksanakan strategi tersebut diperlukan secara jelas kedalam apa yang disebut dengan rumusan KEBIJAKSANAAN sebagai tata laksana untuk melaksanakan strategi. Sejalan dengan itu disiapkan pula rumusan PROGRAM kerja.</p>
<p>4. KESIMPULAN</p>
<p>Pengalaman telah menunjukkan kepada kita, walaupun 62 tahun menikmati kemerdekaan, tetapi wujud dari cita-cita yang dituangkan dalam UUD 1945 masih jauh dari harapan. Kepemimpinan nasional yang salih berganti telah kita lalui namun kehidupan berbangsa dan bernegara menunjukkan timbul beragam masalah normal dan tidak normal yang mengarah pada posisi daur hidup yang terancam kedalam ketidak mampuan tumbuh dan berkembang, walaupun Negara kita kekayaan alam yang luar bisa.</p>
<p>Kebiasaan KKN dapat tumbuh dengan subur pada semua lapisan kegiatan, mengapa ? Itulah satu tantangan kepemimpinan masa depan yang tidak fokus memandang esensi manusia dalam pembangunan yang menjadi kunci kehancuran bangsa yang dipimpin oleh yang memiliki tingkat kesadran yang paling rendah yang kita sebut dengan mendewakan kesadaran indrawi.</p>
<p>Kunci penyelesaian masalah yang kita hadapi adalah terletak pada kita tidak memiliki konsepssi budaya yang bisa diterapkan sebagai pedoman formal untuk mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/budayaatr.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/budayaatr.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budayaatr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budayaatr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budayaatr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budayaatr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budayaatr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budayaatr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budayaatr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budayaatr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budayaatr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budayaatr.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=5&subd=budayaatr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/budaya-berbangsa-dan-bernegara-b3i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMAHAMAN KONSEPSI BUDAYA</title>
		<link>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/pemahaman-konsepsi-budaya/</link>
		<comments>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/pemahaman-konsepsi-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 03:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/pemahaman-konsepsi-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Memahami “Konsepsi Budaya” mendorong kita untuk memahami apa arti memasuki abad 21, suatu abad yang telah ditandai oleh perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan. Perubahan tersebut menunjukkan pula, perlunya satu usaha untuk melakukan pendekatan baru dalam mewujudkan daur hidup dalam bersikap dan berperilaku berbasiskan suatu “Konsepsi Budaya” yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=4&subd=budayaatr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><font size="-0">1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN</font></strong></p>
<p><font size="-0">Memahami “Konsepsi Budaya” mendorong kita untuk memahami apa arti memasuki abad 21, suatu abad yang telah ditandai oleh perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan. Perubahan tersebut menunjukkan pula, perlunya satu usaha untuk melakukan pendekatan baru dalam mewujudkan daur hidup dalam bersikap dan berperilaku berbasiskan suatu “Konsepsi Budaya” yang jelas.</font></p>
<p><span id="more-4"></span><font size="-0">Waktu berjalan terus, era globalisasi merupakan tantangan di abad ini, maka </font> dalam memasuki dunia tanpa batas diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan mengelola berbasiskan “Budaya” sebagai wajah baru haruslah mampu mengantisipasi dan mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang selaras dengan keputusan konsepsi yang kita hayati dan pahami bersama.</p>
<p><font size="-0">Oleh karena itu adanya anggapan yang menganggap bahwa mendorong orang dengan fokus untuk memikirkannya secara konsepsional </font>ini berarti “Budaya” sebagai suatu konsepsi sangat penting untuk diterapkan dan diperlukan seseorang dalam bersikap dan berperilaku yang mampu berperan untuk mengkomunikasikan dengan baik dengan tanggung jawab bersama dengan satu pola pikir kedalam suatu “komunitas”</p>
<p><font size="-0">Dengan ungkapan itu setiap “komunitas” menyadari sepenuhnya bahwa setiap komunitas pada saat ini memahami sepenuhnya untuk apa ia berdiri dan atas prinsip apa yang dianut dalam beroperasinya. Oleh karena itu perilaku suatu komunitas yang didasarkan kepada BUDAYA yang kuat bukan saja pilihan filosofis melainkan sejalan dengan tuntutan daur hidup komunitas dalam kelangsungan hidupnya.</font></p>
<p><font size="-0">_MORE_TEXT_TAG_Jadi berdasarkan pemikiran diatas, sudah saatnya suatu “komunitas” memiliki “Konsepsi Budaya” yang jelas, sehingga dapat diambil kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku untuk menyelaraskan kedalam kepentingan komunitas itu sendiri.</font></p>
<p><font size="-0">Untuk mengkomunikasikan suatu “Konsepsi Budaya” tersebut diperlukan langkah-langkah agar konsepsi budaya dituangkan secara formal sehingga diperlukan keterlibatan semua warga “komunitas” itu sendiri untuk memahami dan mempelajari sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan mereka.</font></p>
<p><font size="-0">Dari sudut pandang anthropologi menekankan pada sistem gagasan atau idea, sedangkan dari sudut sosiologi menekankan pada sistem sosial (perilaku). Bertitik tolak dari sudut pandang tersebut maka dapat dirumuskan pemahaman budaya dari sisi lain sebagai berikut :</font></p>
<ul>
<li><font size="-0">Sistem nilai dan keyakinan komunitas yang mewarnai perilaku warga dan kegiatannya.</font></li>
<li><font size="-0">Cara atau kebiasaan kerja yang telah membudaya (tertanam) dalam satu komunitas.</font></li>
<li><font size="-0">Suatu pola terpadu dari tingkah laku masyarakat dalam komunitas antara lain pemikiran, tindakan, pembicaraan, ritual / upacara dan benda-benda.</font></li>
</ul>
<p><font size="-0">Kemerdekaan yang kita nikmati selama 62 tahun dengan perubahan UUD 1945 telah empat kali dan disusul oleh pembinaan bangsa, revolusi dan pembangunan yang diiukuti perubahan dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi tidak menunjukkan perhatian yang terfokuskan mengenai “pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan”. Dapat kita baca hal tersebut yang ditulis oleh para pemikir seperti Soejatmoko dalam bukunya “Dimensi manusia dalam pembangunan”, Prof Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan”, Mochtar Lubis dalam bukunya “ Manusia Indonesia”</font></p>
<p><font size="-0">Dengan pmikiran yang kita utarakan diatas, maka sudah waktunya kita memusatkan pikiran untuk merumuskan “Konsepsi Budaya” sebagai aturan dan tuntunan yang harus dianut dalam bersikap dan berperilaku sebagai manusia Indonesia seutuhnya dalam uatu komunitas.</font></p>
<p><strong><font size="-0">2. PENDEKATAN SEBAGAI RUMUSAN KONSEPSI</font></strong></p>
<p><font size="-0">Untuk merumuskan suatu konsepsi sebagai pola berpikir dalam merumuskan satu gagasan atau idea yang dapat dipergunakan sebagai landasan, maka diperlukan satu pendekatan.</font></p>
<p><font size="-0">Pendekatan yang kita maksudkan disini “menguraikan huruf dari kata dan merumuskan menjadi kata bermakna kedalam sutua untaian kalimat yang dapat mendorong dalam bersikap dan berperilaku” dalam proses kemampuan berpikir serta memperhatikan hal-hal yang terkait dengan sudut pandang baik antropologi maupun sosiologi.</font></p>
<p><font size="-0">Dengan pemikiran itu, maka kata BUDAYA kita uraikan menjadi kata bermakna yang terdiri dari B menjadi kata </font>(B)ERPIKIR ; U menjadi kata (U)SAHA-USAHA ; D menjadi kata (D)AYA CIPTA ; A(ke 1) menjadi kata (A)MANAH ; Y menjadi kata (Y)AKIN ; A (ke 2) menjadi kata (A)GAMA.</p>
<p><font size="-0">Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka kita memerlukan satu difinisi yang berkaitan dengan pemahaman, apa yang kita maksudkan dengan “BUDAYA” sebagai suatu konsepsi sbb. :</font></p>
<p><font size="-0">“BUDAYA adalah kemampuan seseorang dalam BERPIKIR untuk dapat menggerakkkan USAHA-USAHA dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal untuk menciptakan DAYA CIPTA dalam menjalankan AMANAH yang berlandaskan ke -YAKINAN dengan AGAMA yang dianutnya”.</font></p>
<p><strong><font size="-0">3. UNSUR DAN PENGARUH PERAN BUDAYA</font></strong></p>
<p><font size="-0">Dengan memperhatikan pengertian yang dikemukakan diatas, maka dapat pula kita simpulkan peran Budaya sebagai suatu pemahaman tersebut diharapkan pula menjadi daya dorong dalam mewujudkan keputusan kearah persfektif agar dapat memberikan motivasi dalam usaha membina Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki intergritas pribadi, memiliki wawasan mengenai keagamaan, bahasa, sejarah, kesenian, kesusteraan, </font>dan ilmu pengetahuan.</p>
<p><font size="-0">Untuk membangun, mewujudkan, membina dan </font> mengembangkan SDM yang memiliki karekteristik tersebut kedalam sikap dan perilaku diperlukan landasan Budaya kedalam suatu pemahaman yang mendalam.</p>
<p><font size="-0">Budaya diperlukan untuk berperan dalam menyatukan cara pandang serta cara bertindak dalam menyelaraskan dari pihak-pihak yang berkepentingan ditengah lingkungan yang selalu berubah.</font></p>
<p><font size="-0">Dengan “Konsepsi Budaya” yang dapat diterima semua pihak dalam komunitas yang bersangkutan akan menuntun sikap dan perilaku secara terpola dalam mewujudkan prima dalam karsa dan sadar dalam karya artinya:</font></p>
<p><font size="-0">Prima Dalam Karsa :</font></p>
<ul>
<li><font size="-0">Setiap manusia memiliki komitmen dalam pelaksanaan pekerjaan.</font></li>
<li><font size="-0">Komitmen menjadi daya dorong membangun kebanggaan dalam berkomunitas.</font></li>
<li><font size="-0">Komunitas yang memiliki </font> komitmen tidak lagi menunggu komando untuk diawasi.</li>
<li><font size="-0">Tidak diperlukan kontrol yang ketat dalam mewujudkan mutu kerja.</font></li>
<li><font size="-0">Setiap warga komunitas harus memiliki komitmen yang memiliki kepribadian yang proaktif.</font></li>
<li><font size="-0">Mengelola prima dalam karsa berbasiskan budaya berarti wujud karsa dalam berusaha meningkat produktivitas.</font></li>
</ul>
<p><font size="-0">Sadar Dalam Karya :</font></p>
<ul>
<li><font size="-0">Sikap sadar dalam karya melahirkan disiplin yang tidak semu.</font></li>
<li><font size="-0">Dengan disiplin maka warga dalam komunitas mengenal konstribusi dalam perannya.</font></li>
<li><font size="-0">Mendorong dan menumbuh kembangkan nilai-nilai kreativitas, inovatif, proaktif, dan produktif.</font></li>
<li><font size="-0">Melahirkan kemampuan berpikir dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdesan dan akal untuk menghindari masalah.</font></li>
<li><font size="-0">Setiap warga komunitas merasa dalam kehidupan </font>akan selalu merasa memiliki keunggulan dalam keahliannya.</li>
</ul>
<p>Dengan memperhatikan makna budaya serta memperhatikan yang dinungkapkan oleh Koentjraningrat dalam bukunya “kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, ia mengungkapkan bahwa kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud ialah :</p>
<ul>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.”</li>
</ul>
<p>Selanjutnya ia mengatakan bahwa “ Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudyaan. Kebudayaan ideal ini dapat kita sebut adap tata-kelakuan atau secara singkat dapat dalam arti khusus, atau adat-istiadat dalam bentuk jamaknya” Wujud kedua dari kebudayaan yang disebut sistem soisial.” “ Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik”</p>
<p>Dari apa-apa yang telah kita uraikan diatas, maka yang termasuk unsur-unsur kedalam konsepsi budaya dari suatu komunitas adalah :</p>
<ul>
<li><strong><font size="-0">NILAI,</font></strong><font size="-0"> dalam arti apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik dan apa yang lebih benar atau yang kurang benar. Nilai budaya dapat berbentuk : Disiplin murni (taat bekerja dengan penuh kesadaran) ; Kreatif individu / kelompok ; Inovasi organisasi ; Mengutamakan mutu dan produktivitas ; Kepuasan bersama ; Profesional (mengerti apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya) ; Proaktif (tanggap dan tidak menunggu perintah) ; Jiwa pelayanan ikhlas, ramah tamah ; Kerjasama ; Adaptif ; Tabah (tidak kenal putus asa) ; Menghargai waktu ; dsb.</font></li>
<li><strong><font size="-0">NORMA</font></strong><font size="-0">, dalam arti aturan atau kaidah yang dipakai sebagai tolak ukur penilaian. Atau dapat juga dikatakan norma adalah aturan yang mengikat sebagai panduan, tatanan dan kendali tingkah laku individu dalam suau komunitas. Seluruh peraturan yang diterbitkan harus dijiwai oleh nilai-nilai yang disepakati bersama sebagai tuntunan dalam bersikap dan berperilaku.</font></li>
<li><strong><font size="-0">WEWENANG,</font></strong><font size="-0"> dalam arti kemampuan untuk mengambil keputusan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Wewenang adalah kekuasaan</font>  yang syah untuk melaksanakan peranan sesuai dengan jabatan untuk mewujudkan harapan-harapan selaras dengan budaya komunitas. Wewenang merupakan wahana untuk memasyarakatkan nilai-nilai dan norma-norma dalam budaya dari suatu komunitas.</li>
<li><strong><font size="-0">GANJAR</font></strong><font size="-0">, dalam arti imbalan yang diberikan secara wajar dan adil baik bersifat finansial maupun non finansial. Atau dengan kata lain ganjar adalah imbalan dalam bentuk penghargaan atas prestasi positip atau hukuman atas prestasi negatif.</font></li>
</ul>
<p><font size="-0">Sejalan dengan pemikiran yang kita utarakan diatas, mengingatkan kita kembali apa yang ditulis Soejatmoko dan Mochtar Lubis seperti halnya juga Koentjraningrat telah memberikan arah perfektif mengenai “Manusia Indonesia Seutuhnya” dalam demensi pembangunan.</font></p>
<p><font size="-0">Jadi unsur-unsur tersebut bila dituangkan dalam konsepsi Budaya dari suatu komunitas yang diformalkan akan menjadi landasan bersikap dan berperilaku dalam kehidupan komunitas itu sendiri yang akan </font>mempengaruhi kedalam pola berpikir untuk mengembangkan wawasan dan imajinasi warga Komunitas kedalam dimensi pembangunan.</p>
<p><font size="-0">Jadi pengaruh budaya dalam proses berpikir </font> akan selalu mendorong manusia komunitas itu merasakan arti keberadaannya sebagai warga dalam suatu komunitas untuk dapat memberikan konstribusi dalam pembangunan sesuai dengan perannya.</p>
<p><font size="-0">Pada saat ia memahami masa kini, berarti ia dapat menangkap pengalaman masa lalu. Sejalan dengan itu ia mengharapkan masa depan yang lebih baik dari masa kini, oleh karena itu, ia tidak dapat melepaskan arti berpikir, bekerja dan belajar berlandaskan pemahaman BUDAYA sebagai perekat dalam kebersamaan bersikap dan berperilaku dari komunits itu sendiri yang telah diyakini dan dipercaya oleh mereka. Konsepsi inilah yang harus dibangun secara formal.</font></p>
<p><strong><font size="-0">4. PERSFEKTIF </font>KONSEPSI BUDAYA</strong></p>
<p><font size="-0">Bertitik tolak dari pemikiran intuitif, maka diperlukan satu pernyataan singkat agar dapat menuntun arah yang hendak kita tuju di masa depan yang kita sebut dengan </font> satu pernyataan sebagai berikut :</p>
<p>“VISI BERBUDAYA adalah kemampuan manusia membangun CITRA dalam melaksanakan “prima dalam karsa” dan “sadar dalam karya” dari suatu komunitas sebagai manusia yang unggul berdasarkan pelaksanaan pemahaman BUDAYA yang memiliki kejelasan formal atas nilai, norma, wewenang dan ganjar mendalam sebagai penuntun menuju ke ARAH kesiapan yang mampu memasuki setiap perubahan dengan TUJUAN membangun kebiasaan yang produktif “.</p>
<p><font size="-0">Unsur visi berbudaya dalam sikap mencakup : Citra, Budaya, Arah, Tujuan artinya:</font></p>
<ul>
<li><font size="-0">CITRA adalah mewujudkan sikap sebagai manusia yang unggul.</font></li>
<li><font size="-0">BUDAYA adalah sikap mengkomunikasikan pola berpikir kedalam prinsip yang di formalkan kedalam nilai, norma, wewenang dan ganjar.</font></li>
<li><font size="-0">ARAH adalah sikap positip dalam memasuki setiap perubahan</font></li>
<li><font size="-0">TUJUAN adalah menyatukan sikap dalam kesamaan berpikir dalam membangun kebiasaan yang produktif.</font></li>
</ul>
<p><font size="-0">Bertolak dari pernyataan VISI BERBUDAYA menggambarkan arah perjalanan yang hendak dituju, sebaliknya pernyataan MISI BERBUDAYA </font>menyatakan bagaimana sarana itu disiapkan dalam menuju arah yang dituju, dengan pernyataan sebagai berikut :</p>
<p><font size="-0">“MISI BERBUDAYA adalah kemampuan manusia dalam suatu komunitas dalam usaha-usaha untuk MEMPERHATIKAN perilaku dalam mengkomunikasikan kehangatan serta MEMBIMBING dalam membangun kepercayaan dan keyakinan dengan pemikiran ANALITIS STRATEGIS melihat masa depan yang bersifat antisipatif dari sudut pandang yang bersifat EKSPRESIF dengan penguasaan wawasan dan imajinasi”.</font></p>
<p><font size="-0">Unsur MISI BERBUDAYA dalam perilaku mencakup: Memperhatikan, Membimbing, Analitis, Ekspresif artinya :</font></p>
<ul>
<li><font size="-0">MEMPERHATIKAN adalah mengkomunikasikan kehangatan dalam berperilaku.</font></li>
<li><font size="-0">MEMBIMBING </font> adalah membangun kepercayaan dan keyakinan untuk memahami arti keberadaan dalam berperilaku.</li>
<li><font size="-0">ANALITIS STRATEGIS adalah mengkomunikasikan fakta, gagasan ke masa depan sebagai umber dari kekuatan berpikir dalam berperilaku.</font></li>
<li><font size="-0">EKSPRESIF adalah inisiatif, kreatif, spontan, bersemangat dalam berperilaku.</font></li>
</ul>
<p>Jadi dengan pemahaman kita mengenai VISI dan MISI BERBUDAYA tersebut diatas serta wawasan kita mengenai agama, bahasa, seni, kesusteraan, sejarah, ilmu pengetahuan dan sebagainya mendorong berpikir intuitif untuk merumuskan apa yang menjadi TUJUAN yang hendak dicapai dari konsepsi BERBUDAYA sebagai brikut :</p>
<ul>
<li>Menjadi pedoman sebagai aturan yang harus kita patuhi dan dijalankan sebagai komitmen yang datang dari diri sendiri dalam bersikap dan berperilaku.</li>
<li>Dengan pedoman yang diformalkan dan dapat diterima oleh Warga komunitas diharapkan dapat menuntun dalam menjalankan peran yang dibebankan kepadanya.</li>
<li>Dengan pedoman itu pula mendorong kepada setiap warga untuk mampu membangun kebiasaan yang produktif.</li>
<li>Menjadi pedoman dalam merumuskan budaya kerja kedalam masimng-masing unit kerja ssuai dengan bidangnya.</li>
<li>Menjadi pedoman bagi setiap orang yang merasakan akan arti penting untuk terus meningkatkan kompetensi agar dapat berperan dalam dimensi pembangunan.</li>
<li>Menjadi pedoman bagi setiap pemimpin pada semua tingkatan untuk menumbuh kembangkan kepemimpinan kolaboratif.</li>
<li>Menjadi pedoman bagi setiap warga yang selalu siap menghadapi perubahan dalam gelombang ketidak pastian.</li>
<li>Menjadi pedoman sebagai daya dorong agar setiap warga mampu menggerakkan kreativitas dan inovasi .</li>
</ul>
<p><font size="-0">Untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang dirumuskan diatas, diperlukan pula penjabaran lebih lanjut kedalam SASARAN secara kuantitatip dan rumusan STRATEGI, KEBIJAKSANAAN dan PROGRAM yang jelas dalam melaksanakan transformasi kedalam sikap dan perilaku.</font></p>
<p><strong><font size="-0">5. KESIMPULAN</font></strong></p>
<p>Seandainya anda sebagai pipinan puncak dari suatu komunitas yang baru diangkat yang sedang mengalami masalah yang normal dan tidak normal, maka sebelum anda melangkah mencari penyelesaiannya akan timbul satu pertanyaan, mengapa masalah itu timbul ?</p>
<p>Karena organisasi dalam komunitas itu, tidak siap mengantisipasi perubahan yang serba komplek dan ketidak kepastian, ditambah lagi posisi daur hidup komunitas berada dalam masalah abnormal yang dikelompokkan kedalam katagori “penyakit” sebagai akibat ketidak jelasan dalam meletakkan landasan konsepsi “Berbudaya” yang akan menuntun dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Sejalan dengan pemikiran diatas, timbul pertanyaan “mengapa harus dimulai dari membanngun “Konsepsi Budaya” sedangkan kitapun menyadari bahwa membutuhkan waktu dalam mentransformasikannya karena hal-hal yang tak dapat diraba dan tidak terlihat sehingga diperlukan pemahaman atas peran BERBUDAYA seperti yang telah kita utarakan sebelumnya, oleh karena itu bila kita mengakui perlunya perubahan yaitu menetapkan secara formal BUDAYA maka mereka sebagai warga dari suatu komunitas, sehingga diharapkan adanya satu pemahaman yang dapat mendorong perubahan dalam berpikir yang menyangkut hal-hal sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Manusia dan intelektual adalah unsur sentral dalam keberhasilan.</li>
<li>Konsepsi BERBUDAYA menekankan peran utama manusia.</li>
<li>Teknik manajemen dan strategi yang baik tidak ada artinya apabila dalam BERKOMUNITAS tidak memiliki orang-orang yang punya komitmen yang kuat untuk merealisasikan keputusan yang ditetapkan.</li>
<li>Pengalaman menunjukkan bahwa keunggulan yang diraih oleh negara-negara industri baru dan Jepang adalah konsekwensi dari budaya kerja yang diyakini oleh para pekerja.</li>
<li>Suatu komunitas yang memperhatikan unsur budaya yang di formalkan dalam pemahaman manusia dan intelektual akan mengembangkan budaya yang kuat.</li>
<li>Karena itu strategi dalam membangun suatu komunitas yang baik adalah dilengkapi dengan dimensi konsepsi budaya yang jelas.</li>
</ul>
<p>Dengan pemahaman “Konsepsi Budaya” yang menjadi tulang punggung dari keberhasilan suatu kominitas, maka diharapkan ada titik temu untuk memanfaatkan alat berpikir kesadaran, kecerdasan dan akal menjadi kekuatan berpikir untuk mencari penyelesaian dalam kebersamaan dalam pola berpikir ke masa depan mengenai pentingnya “Konsepsi Budaya” yang Perlu</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/budayaatr.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/budayaatr.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budayaatr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budayaatr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budayaatr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budayaatr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budayaatr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budayaatr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budayaatr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budayaatr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budayaatr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budayaatr.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budayaatr.wordpress.com&blog=1886970&post=4&subd=budayaatr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budayaatr.wordpress.com/2007/10/16/pemahaman-konsepsi-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>