Feeds:
Posts
Comments

    Bab  IV. Membangunan kepemimpinan dan organisasi

KEPEMIMPINAN :

Keberhasilan suatu organisasi ditentukan peran kepemimpinan, oleh karena itu perlu kita memahami maknanya, dalah hal ini banyak penulis mengungkapkan difinisi perihal tersebut dengan merumuskan dengan pandangan yang berbeda.

Oleh karena itu bila kita merenungkan tantangan yang dihadapi-nya adalah bagaimana menciptakan tempat kerja yang memungkinkan orang menjadi yang terbaik, maka keberhasilan ditentukan gaya kepemimpinan artinya kesanggupan berbuat yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku.

Dengan pikiran diatas maka kepemimpinan dirumuskan dari huruf menjadi kata bermakna sebagai berikut : KEPEMIMPINAN adalah (K)apabilitas dari seorang (E)ksekutip untuk melaksanakan (P)emberdayaan (E)mosional sebagai daya dorong orang berpikir untuk (M)empengaruhi hubungan (I)nterpersonal dalam usaha untuk (M)emotivasi  gaya (P)erilaku pada tingkat (I)ntensitas dengan kemampuan (N)alar yang sejalan dengan (A)kal dan (N)aluri.

Dengan memperhatikan makna kepemimpinan diatas, maka perlu dirumuskan MODEL KEPEMIMPINAN ABAD 21, dengan pendekatan kerangka kerja dengan tiga dimensi artinya menempatkan situasi kedalam pusat perhatian.

TANTANGAN dengan dimensi yang disebut KOMPLEKSITAS, PERUBAHAN, GLOBALISASI

PARADIGMA dengan dimensi yang disebut KEUNGGULAN, INOVATIF, ANTISIPATIF.

MENGELOLA dengan dimensi yang disebut EMOSI, MEMORI, NALURI.

OTAK dengan dimensi yang disebut KESADARAN, KECERDASAN, AKAL.

KEBIASAAN dengan dimensi yang disebut PENGETAHUAN DARI PENGALAMAN, ILMU DARI INFORMASI, KEINGINAN DARI SIKAP DAN PERILAKU

INTERPENSI dengan dimensi yang disebut MEMBANGUN PRINSIP, MENGHADAPI LINGKUNGAN EXT & INT, PELATIHAN KEPEMIMPINAN.

AKTUALISASI dengan dimensi yang disebut POSISI MASA DEPAN, PERFORMA, PERSFEKTIF

PROFESIONALISME dengan dimensi yang dsebut dengan WAWASAN, PENYELARASAN, PEMBERDAYAAN.

KREATIF & INOVASI dengan dimensi yang disebut dengan IKLIM ORGANISASI, TEKNOLOGI INFORMASI, INFORMASI TERBUKA

ANTISIFATIF dengan dimensi yang disebut dengan FAKTA & INFORMASI, TEKNOLOGI, OTAK & HATI

WUJUD PROFESIONAL dengan dimensi yang disebut dengan KOLABORASI, KOMUNIKASI, KOMITMEN

WUJUD KREATIF & INOVASI dengan dimensi yang disebut dengan BAKAT, TIM, PRODUK

WUJUD ANTISIPATIF dengan dimensi yang disebut KESADARAN, AKAL, KECERDASAN.

SIKAP – GAYA – PERILAKU dipengarhi banyak faktor.

BERPIKIR INTUITIF – BERPIKIR RJPN – BERPIKIR RJPD

MENGELOLA ORGANISASI BERBASISKAN BUDAYA :

Budaya organisasi sebagai satu pendekatan adalah sangat penting untuk diterapkan dan diperlukan seorang yang mampu berperan untuk mengkomunikasikan dengan baik dan tanggung jawab bersama dngan satu pola pikir bahwa suatu organisasi yang fleksibel dan mudah di kontrol sebagai pondasi yang efektif adalah visi dan misi organisasi yang sejalan dengan budaya yang dianutnya.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka seorang CEO menyadaepenuhnya untuk apa ia berdiri dan atas prinsip apa yang dianut dalam operasinya. Oleh karena itu perilaku organisasi yang didasarkan bukan saja pilihan filosofis mlainkan sejalan dengan tunutan daur hidup oganisasi dalam kelangsungan hidupnya.

Jadi berdasarkan pemikiran diatas sudah saatnya suatu organisasi memiliki konsepsi budaya organisasi yang jelas sehingga dapat menuntun bersikap dan berperilaku untuk menyelaraskan kedalam kepentingan stakeholders.

Dengan demikian mengelola organisasi berdasarkan budaya diperlukan langkah-langkah agar konsepsi budaya yang dituangkan secara formal diperlukan keterlibatan pemimpin dan anggota organisasi  untuk dipelajari, dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan lingkungan kerja dengan menjelaskan, mengkomunikasikan, dan menyesuaikan kebiasaan kita sehari-hari dengan misi dan nilai-nilai kita.

Prinsip organisasi yang dibangun adalah berdasarkan organisasi matrik sesuai dengan kebutuhan yang terdiri dari Dewan pendiri, Dewan Dreksi, Dewan Pengawas, Sekretarian Dewan yang membawahi terdiri unit Adm/ Keu. ; Akuntansi ; Pengajaran; Pembuat Silabus; Penelitan&Pengembangan.

Untuk setiap kebutuhan dibangun dalam bentuk Proyek-proyek yang terdiri dari para spesialis.

  Bab  III. Menjabarkan TUJUAN dan SASARAN

TUJUAN DAN AZAS PENDIRIAN

Bertitik tolak dari pernyataan VISI dan MISI diatas sebagai jabarannya yang kita sebut dengan TUJUAN PENDIRIAN SECARA KUALITATIP adalah :

  • Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dalam penigkatan kompetensi yang sejalan dengan kebutuhan pemain peran.
  • Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan eterampilan yang sejalan dengan kebutuhan pemain peran
  • Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia sebagai sarana pembelajaran jarak jauh.
  • Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan kemampuan sendiri dan atau peran pihak ketiga untuk menyiapkan modl-modul yang berkaitan dengan kebutuhan dalam pelatihan.
  • Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan kemampuan sendiri dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga dalam usaha pendidikan formal yang terintergrasi dari TK s/d Pendidikan Tinggi.

Dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai diatas, harus pula dirumuskan secara jelas hal-hal yang berkaitan dengan landasan yang bertumpu pada AZAS-AZAS apa yang disebut dengan :

  • Azas profesionalisme yang menunjukkan kunggulan dalam memberikan pelayanan atas penyelenggaraannya.
  • Azas inopatip yang menunjukkan kemampuan terus menerus mencari cara baru untuk membuat infrastruktur yang lebih bermanfaat bagi yang berkepentingan.
  • Azas antisipatip yang menunjukkan kemampuan penyesuaian antara kecepatan perubahan lingkungan dengan kecepatan tanggapan manusia yang terbatas.
  • Azas keterpaduan dalam melaksanakan infrastruktur dalam lingkaran pusat dan daerah
  • Azas keserasian antara kepentingan pusat, daerah dan multimedia.
  • Azas keterbukaan yang dapat memberikan dorongan dari kepentingan stakeholders.

SASARAN

Merumuskan tujuan yang berifat kualitatif menjadi SASARAN dalam jangka lima tahun sebagai recana jangka panjang yang dijabarkan secara kuantitatip yang disusun berdasarkan kelayakan untuk masing-masing tujuan yang hendak di capai dengan memperhatikan kebutuhan yang sesuai dengan realita.

Selanjutnya sasaran tersebut dijabarkan kedalam rencana pelaksanaan tahunan yang didasarkan pengkajian ulangan sebagai suatu kebutuhan yang benar-benar dapat direalisasikan yang sejalan dengan sumber daya yang tersedia baik yang kita miliki maupun atas dasar kerja sama.

 

    Bab   II. Menjabarkan VISI dan MISI

Sejalan dengan Visi dalam Sikap sebagai suatu pandangan yang dapat mempengaruhi  tindakan kedalam organisasi formal yang ditetapkan maka sebagai rumusan dari VISI MEMBANGUN KOMUNITAS ENTREPRENEUR  adalah kemampuan dari pengelola dalam usaha memainkan peran yang bermoral, berkualitas, produktif dalam membangun CITRA, BUDAYA, ARAH, TUJUAN sebagai berikut :

CITRA DALAM DIKLAT adalah  wujud si yang berkemampuan mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar dapat dilaksanakan yang terbaik sesuai kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan tuntutan paradigma abad 21.

BUDAYA DALAM DIKLAT adalah  wujud sikap yang berkemampuan mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar ia menjadi alat untuk menumbuh kembangkan kolaborasi dalam gaya kepemimpinan.

ARAH DALAM DIKLAT adalah wujud sikap yang mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar ia dapat memberikan arah pelaksanaan pembangunan diklat. berjalan secara berkesinambungan.

TUJUAN DALAM DIKLAT adalah wujud sikap yang mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders dari yang tidak tahu menjadi tahu untuk mewujudkan nilai tambah dalam menjalankan setiap peran.

Secara singkat pernyataan VISI MKE(membangun komunitas entrepreneur) adalah Membangun CITRA dalam pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan dengan BUDAYA sebagai alat  menumbuh kembangkan kolaborasi dan gaya kepemimpinan dengan ARAH pelaksaan diklat. berkesinambungan dengan TUJUAN mewujudkan nilai tambah dalam menjalan setiap peran.

MISI MEMBANGUN KOMUNITAS ENREPRENEUR :

Bertitik tolak dari pernyataan VISI diatas, maka perlu suatu pemikiran untuk  merumuskan langkah menyiapkan sarana sebagai alat untuk mengadakan perjalanan yang kita sebut pernyataan MISI dengan memanfaatkan proses berpikir yang kita sebut MEMPERHATIKAN, MEMBIMBING, ANALITIS dan EKSPRESIF yang dapat menjadi penuntun kedalam kejelasan, intensitas dan kesatuan dalam mewujudkan visi :

MEMPERHATIKAN dalam diklat. adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai keseimbangan kepentingan yang diterima oleh stakeholder.

MEMBIMBING dalam diklat adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam usaha-usha mendorong bahwa komitmen harus tumbuh dan berkembang bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar melainkan datang dari dalam diri sendiri.

ANALITIS dalam diklat adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam pemanfaatan proses berpikir yang bersifat strategik dan peka denan lingkungan yang selalu berubah sehingga diperlukan kesiapan melaksanakan antisipasi.

EKSPRESIF dalam diklat adalah pikiran yang menunjukkan misi kita kedalam pemberdayaan sumber daya manusia dalam kesiapan perubahan masyarakat Industri ke masyarakat Informasi ke masyarakat Pengetahuan dalam dunia tanpa batas

Secara singkat pernyataan Misi Membangun Komunitas Entrepreneur  adalah sarana mewujudkan mimpi menjadi kenyataan melalui proses berpikir dengan kekuatan MEMPERHATIKAN, MEMBIMBING, ANALITIS DAN EKSPRESIF kedalam kebersamaan keyakinan.

 

 

 Bertitik tolak dari keputusan strategic diatas, sebagai landasan untuk merumuskan RENCANA JANGKA MENENGAH PERTAMA 2015 S/D 2020 (5 tahun) dengan menggambarkan secara kualitatif dan kuantitatif dengan SISTIMATIK PENULISAN sbb.:

    Bab    I. Pendahuluan

Keberhasilan suatu Bangsa terletak tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara artinya pembangunan akan berjalankan sesuai dengan harapan yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945.

Agar bangsa dan Negara Indonsia dapat tumbuh dan berkembang dalam pemangunan berarti dengan peran kepemimpinan puncak anda akan mendorong secara berkelanjutan kebutuhan akan membangun SDM yang unggul dengan kepribadian yang seutuhnya.

Untuk itu anda harus memiliki rencana pengembangan SDM yang berkelanjutan dengan bertolak dari prinsip dasar yang harus ditumbuh kembangkan kedalam sikap dan perilaku pada setiap peran SDM.sebagai komitmen.

Bertolak dari pemikiran diatas, maka prinsip dasar yang harus di sosialisasikan sebagai suatu kebutuhan, apa yang kita sebut dengan prinsip-prinsip dasar yaitu :

1) Membangun kebiasaan yang produktif, menjadi suatu komitmen yang tumbuh dan berkembang atas kemauan sendiri. ;

2) Menumbuh kembangkan kemampuan menemukan jati diri tanpa topeng kepalsuan, dengan mendalami pemahaman manusia siapa, darimana dan kemana ? ;

3) Membangun kebiasaan bersikap dan berperilaku dalam aktualisasi tindakan yang bertolak dari prinsip menghindari dari pada mencegah.

4) Membangun kebiasaan memanfaatkan kekuatan pikiran dalam prinsip hidup bahwa menjadi manusia disatu sisi melihat kebawah dan disisi lain melihat keatas. ;

5) Membangun kebiasaan menjalankan visi hidup yang jelas dalam memberikan arah persfektif dalam peran.

Dengan menjalankan prinsip-prinsip dasar yang dituangkan dalam usaha-usaha untuk membangun dan menumbuhkan SDM unggul berarti secara langsung melaksanakan perubahan sikap dan perilaku manusia itu sendiri yang sesuai dengan kebutuhan masa depan dalam dunia tanpa batas.

Dalam dunia tanpa batas, maka tingkat perubahan dan tantangan menjadi ketidak pastian yang begitu besar, sehingga diperlukan SDM yang unggul dalam arti  seutuhnya, dengan demikian mereka selalu siap dan mampu menyesuaikan dengan perubahan. Oleh karena itu diperlukan pelaksanaan perencanaan SDM yang terpadu dimana disatu sisi sangat dibutuhkan kompetensi yang sejalan dengan perannya dan disisi lain diperlukan pula kepribadian dengan jati diri.

                  MAKNA DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP PERTAMA

Membangun SDM yang unggul, bertolak dari kesadaran dari manusia itu sendiri untuk berusaha meningkatkan kebiasaan yang produktif. Kebiasaan yang produktif haruslah di topang oleh kemampuan untuk meningkatkan kemauan untuk menambah ilmu yang diperoleh dari informasi, pengetahuan yang di peroleh dari pengalaman sebagai suatu keterampilan dan keinginan yang bertolak dari niat

Jadi ilmu, pengetahuan dan keinginan merupakan tonggak dari kehidupan anda yang harus di tumbuh kembangkan agar anda selalu siap menghadapi tantangan sebagai alat untuk terus memanfaatkan kekuatan berpikir untuk menanggapi setiap pelaksanaan dari rencana jangka panjang, menengah dan pendek.

Pelaksanaan rencana oleh pemain peran hanya akan sukses sesuai dengan harapan akan ditentukan oleh kesiapan dalam menghadapi tantangan dan perubahan dan oleh karena itu, maka pemain peran dengan meningkatkan kebiasaan yang produktif berarti memiliki wawasan dan imajinasi yang mampu mendorong kreatifitas individu menjadi kreatifitas kelompok, yang pada waktunya akan melahirkan inovasi organisasi yang sejalan dengan iklim organisasi yang sangat kondusif.

MAKNA DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP KEDUA

Sejalan dengan prinsip pertama, maka usaha mewujudkan jiwa suatu keyakinan untuk melaksanakan makna yang terkait dengan pemahaman siapa, darimana dan kemana manusia itu.

Dengan pemahaman itu, maka anda akan mampu menempatkan diri sesuai dengan peran-peran yang dibebankan kepada anda yang sejalan dengan amanat, kebebasan berpikir dan berpendapat, namun diperlukan satu kesadaran yang menuntun manusia dalam kebebasan berkehendak.

Jadi dalam prinsip kedua ini, manusia yang unggul memiliki kemampuan untuk terus menerus berusaha meretas jalan menjadi diri sendiri, untuk mendalami hal-hal yang terkait dengan siapa, darimana dan kemana manusia itu sehingga memiliki kemampuan untuk menata diri dengan memanfaatkan kemapuan OTAK (ORANG, TAWAKAL, AMANAH, GOLONGAN).

Dengan menggerakkan kekuatan berpikir itu, manusia menjadi terbiasa untuk setiap kali bersikap dan berperilaku untuk melaksanakan pemahaman manusia atas ORANG (ORGAN, ROH, AKAL, NAFSU, GOLONGAN) ; TAWAKAL (TAAT, AQIDAH, WAHYU, ALLAH, KITAB, ALQURAN, LAILATUL QODAR) ; AMANAH (AMAL, MARTABAT, AKHLAK, NASIB, AZAB, HARI) ; KERJA (KEBAJIKAN, ENERGI, JANJI, ADIL), Oleh karena itu, dalami makna kata tersebut untuk memimpin diri anda.

MAKNA DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP KETIGA

Bertolak dari prinsip pertama dan kedua, diharapkan manusia secara sadar agar manusia dalam menjalankan peran yang dibebankan kepadanya dalam bersikap dan berperilaku haruslah mampu menanamkan jiwa dengan hati yang bersih melalui pandangan hidupnya untuk beraktualisasi kedalam lebih baik menghindari daripada mencegah.

Memupuk jiwa dengan hati yang bersih, berarti anda dalam menjalankan peran akan selalu ingat atas kebiasaan untuk mendahului menghindari dari pada mencegah artinya manusia harus sadar akan imbauan sauara seperti “Ambillah dari dunia sesuatu yang dapat menjadi bekal untuk akhirat anda dan janganlah anda mengambil dari dunia sesuatu yang menghalangi akhirat anda”

Bertolak dari pikiran tersebut diatas diharapkan dapat memberikan daya dorong untuk mengaktualisasikan kekuatan pikiran untuk selalu sadar bahwa bersikap dan berperilaku dengan memperhatikan rinsip ketiga ini untuk menuntun dalam menjalankan peran yang di amanahkan.

Jadi tanamkan dalam pikiran anda segala perbuatan yang merugikan dan dilarang untuk tidak dilaksanakan karena sekali anda berbuat, maka disitu ketidak mampuan anda bermain dengan syetan yang akan selalu mempengaruhalami jalan pikiran anda, dimana suatu saat anda ingin tobat, walaupun pintu tobat terbuka, tapi suatu saat lain kejadian itu akan terulang lagi sebagai akibat ketidak kemampuan mengendalikan nafsu.

Oleh karena itu, manusia harus mampu menjalankan untuk menghindarinya, sejalan dengan cobalah anda renungkan kata orang bijak seperti “Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah anda menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan.“

MAKNA DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP KEEMPAT

Bertolak dari prinsip pertama, kedua, ketiga sebagai kekuatan yang menggerakkan pikiran manusia diharapkan dapat memberikan daya dorong dalam setiap tindakan yang dituntun oleh prinsip hidup yang melihat kebawah dan keatas.

Melihat kebawah artinya seandainya anda berperan memiliki kekuasaan dan juga orang yang sangat berada, maka dalam perjalanan hidup anda seharusnya anda selalu memandang kebawah, dengan begitu anda selalu sadar, apa arti keberadaan anda di bumi dan sekali gus mengingatkan anda bahwa kesadaran inderawi mendorong manusia lupa akan dirinya.

Sebaliknya melihat ketas artinya bertambah tinggi ilmu yang anda meliki mendorong anda untuk terus menggalinya sehingga tidak ada henti-hentinya anda untuk terus belajar yang sejalan dengan tuntunan Allah swt.

Dengan pandangan hidup yang kita ungkapkan diatas, maka anda akan selalu ingat kata-kata bijak seperti „Sikap rendah diri tidak akan dimiliki oleh orang yang pengetahuannya tidak ia gunakan sesuai dengan bakatnya dan tidak sesuai dengan disiplin pengetahuannya dan digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.“

MAKNA DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP KELIMA

Dengan memperhatikan empat prinsip yang telah kita ungkapkan diatas, maka dengan memahami makna manusia dibutuhkan visi hidup yang jelas dalam memberikan arah persfektif dalam peran anda yang hendak dituju dimasa depan.

Jadi dalam menjalani hidup ini, dengan visi hidup yang jelas untuk dilalui akan memberikan daya dorang yang akan menuntun anda ke jenjang peran yang akan dilalui dan akan bergantung kesiapan diri anda menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan dan kemampuan memaksimumkan peluang yang tersedia.

Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah anda renungkan makna kata-kata orang bijak seperti yang terungkap dibawah ini :

“Anda lihat bahwa pada umumnya manuasia bergantung pada sarana, sedang orang yang arif bergantung pada yang menguasai sarana. Pembicaraannya tiada lain mengenai kebesaran Allah, kekuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, dan rahmat-Nya. Semua waktunya ia habiskan untuk itu hingga ia membawanya masuk ke dalam kuburnya.”

Dengan mendalami makna untaian kata bijak diatas, maka secara sadar apapun usaha anda untuk mengisi masa depan anda akan bergantung kesiapan visi hidup anda secara jelas sebelum melangkah dan oleh karena itu keberhasilan anda ditentukan pula oleh usaha-usaha anda yang diridhoi leh Allah swt.

Membangun sumber daya manusia yang unggul, maka langkah awal perlu ditanamkan lima prinsip hidup yang telah kita ketengahkan diatas, yang merupakan kunci meretas jalan menjadi diri sendiri, sehingga terbangun jiwa tanpa topeng kepalsuan.

Pemikiran diatas harus disosialisasikan, sehingga setiap orang yang merasa terikat dalam organisasi, akan berusaha sebagai komitmen dirinya agar ia termasuk SDM unggul yang sangat dibutuhkan oleh organisasi dalam usaha mempertahan daur hidup organisasi dalam posisi yang prima.

 

BUDAYA MASA DEPAN

Mewujudkan kebersamaan visi dalam sikap dan misi dalam perilaku ditentukan oleh cetusan BUDAYA yang dapat diterima oleh semua pihak, oleh karena itu betapa pentingnya untuk mewujudkan keputusan strategik diatas diperlukan sikap dan perilaku yang terpola agar seluruh aktivitas dapat digerakkan oleh unsur manusia, maka diperlukan APA YANG DISEBUT DENGAN PRINSIP MENGELOLA BERDASARKAN BUDAYA.

Proses mengelola berdasarkan budaya di tempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut :

PERTAMA, menjelaskan kembali seluruh keputusan strategik sebagai pedoman yang dapat diterima dengan 1) Memberikan dukungan dalam mewujudkan kebanggaan dalam organisasi ; 2) Apakah dapat dipergunakan untuk dikomunikasikan dan mengambil keputusan ; 3) Pedoman dalam mengalokasikan sumber daya dan memecahkan masalah pekerjaan.

KEDUA, mengkomunikasika keputusan strategik yang beretika, responsip dan menguntungkan.

KETIGA, menyesuaikan kebiasaan dengan budaya

Untuk mendalami MASALAH BUDAYA ini kiranya diperlukan ungkapan yang lebih mendalam sebagai suatu pendekatan yang mampu mendorong sikap dan perilaku yang terpola yang didukung pemahaman secara KONSEPSIONAL dalam menggugah jiwa dan hati sebagai penuntun dalam beraktualisasi.

Disatu sisi kita menyadari satu sumber kekuatan selama perjuangan kenmerdekaan ialah kemampuan bangsa kita untuk memelihara dan terus meningkatkan persatuan dan kesatuan nsional kita sambil menghormati secara wajar keanekaragaman dalam rangka persatuan dan keatuan nasional itu. Hal itu paling nyata dilambangkan oleh PANCASILA tidak hanya dasar Negara secara formal saja, tetapi juga telah menempa identitas bangsa kita.

Disisi lain bahwa dalam perjuangan kemerdekaan kita yang telah disusul oleh pembinaan bangsa, revolusi dan pembangunan yang diiukuti perubahan dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi tidak menunjukkan perhatian yang terfokuskan mengenai “pembangunan ekonomi sebagai masalah kebudayaan”. Dapat kita baca hal tersebut yang ditulis oleh para pemikir seperti Soejatmoko dalam bukunya “Dimensi manusia dalam pembangunan”, Prof Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan”, Mochtar Lubis dalam bukunya “ Manusia Indonesia”

Apa yang terjadi, para pemikir tidak lepas dari perdebatan yang dikenal “Polemik Kebudayaan” kearah mana pengembangan dan perkembangan Kebudayaan Nasional Indonesia seharusnya berkiblat ? budaya barat atau arah budaya yang sudah mentradisi di dunia timur khususnya di bumi Nusantara ?

Polemik yang berkepanjangan tidak jelasnya rumusan tentang “budaya berbangsa dan bernegara Indonesia” dalam menafsirkan seperti yang termuat dalam UUD ’45 yang tertuang dalam pasal 32 “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia” (sebelum dirubah) serta uraian dalam penjelasan yang berbunyi “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya Rakyat Indonesia seluruhnya.” “Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kea rah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari ebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan

Pasal tersebut terdapat perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002, yang berbunyi “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya” “(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”
Dari rumusan atas perubahan yang diungkapkan diatas hanyalah mendorong adanya pemikiran polemik yang berkepanjangan dan hal itu yang diinginkan oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tuntunan dalam kebersamaan dalam bersikap dan berprilaku dalam mengaktualisasikan kesatuan dalam pemikiran yang tidak memiliki budaya berbangsa dan bernegara.

PENDEKATAN SEBAGAI RUMUSAN KONSEPSI

Untuk merumuskan suatu konsepsi sebagai pola berpikir dalam merumuskan satu gagasan atau idea yang dapat dipergunakan sebagai landasan, maka dieprlukan satu pendekatan.

Pendekatan yang kita maksudkan disini “menguraikan huruf dari kata dan merumuskan menjadi kata bermakna kedalam sutua untaian kalimat yang dapat mendorong dalam bersikap dan berperilaku” dalam proses kemampuan berpikir.

Kata-kata yang hendak dirumuskan disini adalah BUDAYA, BERBANGSA, BERNEGARA, INDONESIA, dengan uraian sebagai berikut ;

Kata BUDAYA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :
B menjadi kata bermakna (B)ERPIKIR
U menjadi kata bermakna (U)SAHA-USAHA
D menjadi kata bermakna (D)AYA CIPTA
A menjadi kata bermakna (A)MANAH
Y menjadi kata bermakna (Y)AKIN
A menjadi kata bermakna (A)GAMA

BUDAYA Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan adalah kemampuan seseorang dalam BERPIKIR untuk dapat menggerakkkan USAHA-USAHA dalam memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal untuk menciptakan DAYA CIPTA dalam menjalankan AMANAH yang berlandaskan ke –YAKINAN dengan AGAMA yang dianutnya.

Kata BERBANGSA yang terdiri dari huruf menjadi kata bermakna :
B menjadi kata bermakna (B)ERJIWA
E menjadi kata bermakna (E)TIKA
R menjadi kata bermakna (R)UKUN
B menjadi kata bermakna (B)BERBUDI
A menjadi kata bermakna (A)QLAK
N menjadi kata bermakna (N)URANI
G menjadi kata bermakna (G)ERAKAN
S menjadi kata bermakna (S)OSIAL
A menjadi kata bermakna (A)DIL

Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERBANGSA adalak manusia yang BERJIWA dengan landasan ETIKA, ke-RUKUNAN, BERBUDI, ber-AQLAK mulia dalam menjalankan hati NURANI sebagai suatu GERAKAN dalam mewujudkan makna SOSIAL dan ADIL.

Kata BERNEGARA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :
B menjadi kata bermakna (B)ERSATU
E menjadi kata bermakna (E)MOSIONAL
R menjdi kata bermakna (R)ASIONAL
N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL
E menjadi kata bermakna (E)KLEKTIS
G menjadi kata bermakna (G)ABUNGAN
A menjadi kata bermakna (A)NTAR
R menjadi kata bermakna (R)AS
A menjadi kata bermakna (A)GAMA

Bila kta-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan BERNEGARA adalah keinginan yang berlandaskan niat untuk BERSATU secara EMOSIONAL dan RASIONAL dalam membangun rasa NASIONALIEME secara EKLEKTIS kedalam sikap dan perilaku ANTAR yang berbeda RAS dan AGAMA..

Kata INDONESIA yang terdiri dari huruf-huruf menjadi kata bermakna :
I menjadi kata bermakna (I)NTERGERASI
N menjadi kata bermakna (N)ASIONAL
D menjadi kata bermakna (D)AERAH
O menjadi kata bermakna (O)RGANISASI
N menjadi kata bermakna (N)EGARA KESATUAN
E menjadi kata bermakna (E)KONOMI
S menjadi kata bermakna (S0EJAHTERA
I menjadi kata bermakna (I)MPIAN
A menjadi kata bermakna (A)MANAH

Bila kata-kata tersebut kita susun dalam untaian kalimat yang bermakna, maka kita merumuskan INDOESIA adalah wilayah kepulauwan yang ter-INTERGERASI secara NASIONAL dari DAERAH daratan dan lautan kedalam ORGANISASI berbentuk NEGARA KESATUAN untuk melaksanakan pembangunan EKONOMI dalam mewujudkan masyarakat SEJAHTERA sebagi realisasi IMPIAN yang di-AMANAHKAN oleh UUD ’45.

Berdasarkan pendekatan yang kita utarakan diatas, diharapkan dapat dipergunakan untuk menyusun suatu konsepsi yang dapat dipergunakan untuk menyatukan sudut pandang dalam kita merumuskan, apa yang telah tertuang dalam pasa 32 UUD ’45 sebelum diadakan perubahan.

Degan sudut pandang itu, kita harapkan kita dapat menyatukan pola berpikir dalam merumuskan visi, misi, tujuan, strategi dalam mengaktualisasikan BUDAYA BERBANGSA BERNEGARA INDONESIA sebagai pedoman dalam kita bersikap dan berperilaku dalam menjalankan fungsi, pekerjaan, kerja, jabatan, peran dan tanggung jawab dalam berbangsan dan bernegara.
PERSFEKTIF BUDAYA DALAM KOMUNITAS BERNEGARA

B3I adalah wujud sikap dan perilaku sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam kemampuan memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal kedalam usaha mengaktualisasikan makna Budaya Berbangsa Bernegara Indonesia sebagai pedoman yang harus dianut selaku warga Negara.

Konsepsi tersebut mendorong kita untuk memahami apa arti me masuki abad 21, suatu abad yang telah ditandai oleh perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan. Perubahan tersebut menunjukkan pula, perlunya satu usaha untuk melakukan pendekatan baru dalam mewujudkan daur hidup organisasi Negara yang selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian yang selalu ada dimana-mana.
Waktu berjalan terus, era globalisasi merupakan tantangan di abad ini, maka dalam memasuki dunia tanpa batas diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan mengelola organisasi negara berbasiskan budaya berbangsa dan bernegara Indonesia. B3I sebagai wajah baru haruslah mampu mengantisipasi dan mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang selaras dengan keputusan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran, strategi).

Kepemimpinan nasional silih bergati dan menerapkan gayanya sendiri , sehingga ada satu kesan B3I bukanlah penentu keberhasilan, sehingga pada saat ia mencanangkan suatu gagasan untuk dilaksanakan, ia beranggapan sama luasnya dengan fungsi perencanaan itu sendiri tapi mereka tidak memahmi dari sisi hal yang konkrit. Jadi yang menentukan keberhasilan terletak pada dimensi manusia.

Oleh karena itu adanya anggapan yang menganggap sama mudah menyebar seperti sistem gayanya kedalam pengikutnya, yang mendorong orang tidak pernah fokus untuk memikirkannya secara konsepsional arti penting keberadaan B3I. B3I tidak pernah dirumuskan sehingga organisasi negara sebagai satu pendekatan adalah sangat penting untuk diterapkan dan diperlukan seorang yang mampu berperan untuk mengkomunikasikan dengan baik dengan tanggung jawab bersama dengan satu pola pikir bahwa suatu organisasi NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) sebagai pondasi yang efektif adalah visi dan misi yang sejalan dengan B3I yang dianutnya.

Jadi berdasarkan pemikiran diatas, sudah saatnya suatu NKRI memiliki konsepsi B3I yang jelas, sehingga dapat diambil kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku untuk menyelaraskan kedalam kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dalam bertindak sesuai dengan tuntunan yang telah kita rumuskan dalam melaksanakan pembangunan ekonomi yang berdemensi manusia Indonesia seutuhnya.

Untuk mengkomunikasikan B3I tersebut diperlukan langkah-langkah agar konsepsi B3I yang dituangkan secara formal diperlukan keterlibatan semua warga Negara Indonesia untuk memahami dan mempelajari sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bernegara.

VISI, MISI DAN TUJUAN B3I

Bertitik tolak dari pemikiran intuitif, maka diperlukan satu pernyataan singkat agar dapat menuntun arah yang hendak kita tuju di masa depan yang kita sebut dengan satu pernyataan sebagai berikut “VISI B3I adalah kemampuan manusia Indonesia membangun CITRA sebagai manusia yang unggul berdasarkan pelaksanaan pemahaman yang mendalam atas B3I yang di formalkan atas kesepakatan bersama sebagai penuntun dalam bersikap menuju ke ARAH kesiapan yang mampu memasuki setiap perubahan dengan TUJUAN membangun manusia Indonesia seutuhnya”

“MISI B3I adalah kesiapan manusia untuk MEMPERHATIKAN dalam mengkomunikasikan suasana hati dalam kehangatan agar supaya dalam usaha MEMBIMBING untuk membangunan keyakinan dan kepercayaan dengan pemahaman yang mendalam melalui ANALISA STRATEGIK berdasarkan data dan fakta kedalam gagasan masa depan secara EKSPRESIF dalam menuntun inisiatif, spontan, bersemangat dan kreatif”

Jadi dengan pernyataan VISI B3I memberikan arah sebagai peta perjalanan dalam bersikap sedangkan MISI B3I memberikan petunjuk bagaimana cara kita mengadakan perjalanan dalam berperilaku.

Dengan demikian apa yang telah diuraikan bahwa VISI disatu sisi mengingatkan kepada kita dalam bersikap (cara anda mengkomunikasikan suasana hati anda kepada orang lain) selalu dalam pemikiran yang positip, sedangkan disisi lain bahwa MISI dalam Perilaku (segala tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme) sebagai wahana transformasi dalam pola berpikir yang akan menuntun bagaimana organisasi bernegara menyeberangi kesenjangan B3I VS RENCANA PERSFEKTIF, POSISI DAN KINERJA.

Bertitik tolak dari Visi dan Misi B3I yang diutarakan diatas sebagai penuntun, maka diperlukan pula rumusan yang jelas TUJUAN-TUJUAN yang hendak dicapai dalam B3I yang mencakup :

• Meletakkan landasan yang kuat dalam B3I yang diformalkan dengan Undang-undang yang sejalan dengan UUD 1945 setelah dan sesudah di amendemen sebanyak empat kali.
• Merumuskan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah untuk lebih jelas sebagai peraturan pelaksaan dari Undang-undang yang ditetapkan yang menyangkut unsur-unsur Nilai, Norma, Wewenang dan Ganjar sebagai payung untuk merumuskan B3I kedalam struktur penyelenggara Negara sebagai eksekutif, legislatif dan yudikatif.
• Merumuskan Instruksi Presiden RI. yang menetapkan kewajiban setiap unit kerja lembaga pemerintahan dari pusat dan daerah termasuk pelaku ekonomi Negara untuk menyusun pedoman budaya sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku.
• Mentransformasikan B3I dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi dimensi manusia dalam pembangunan.
• Merumuskan kreteria-kreteria B3I dalam keberhasilan untuk dapat mewujudkan pengaruh dari budaya yang kuat untuk menuntun dalam bersikap da berperilaku.
• Merumuskan proses pengambilan keputusan dalam menghindari masalah sebagai kekuatan budaya baru.
• Merumuskan pemecahan masalah masa kini dan masalah masa lampau berbasiskan B3I yang merubah pola pikir reaktif menjadi proaktif dengan mengidentifikasi pengelompokan masalah yang kritis, pokok dan insidentil.
• Merumuskan langkah-langkah yang jelas dengan proses merancang perubahan yang berencana, proses transformasi dan proses dalam peningkatan yang berkelanjutan.

SASARAN, STRATEGI, KEBIJAKSANAAN, PROGRAM

Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara kualitatip maka perlu menjabarkannya kedalam SASARAN secara kuantitatip. Rumusan sasaran yang hendak dicapai sejalan dengan struktur organisasi formal dari suatu komunitas.

Untuk merealisasikan sasaran tersebut diperlukan suatu konsep STRATEGI yang jelas artinya melaksanakan strategi fokus sebagai kekuatan dalam membangun kebiasaan yang produktif kedalam iklim organisasi, kolaborasi, komitmen, dan pemberdayaan diri sebagai wujud membangun kebersamaan kedalam kepercayaan dan keyakinan menju perubahan sikap dan perilaku.

Untuk melaksanakan strategi tersebut diperlukan secara jelas kedalam apa yang disebut dengan rumusan KEBIJAKSANAAN sebagai tata laksana untuk melaksanakan strategi. Sejalan dengan itu disiapkan pula rumusan PROGRAM kerja.

Pengalaman telah menunjukkan kepada kita, walaupun 62 tahun menikmati kemerdekaan, tetapi wujud dari cita-cita yang dituangkan dalam UUD 1945 masih jauh dari harapan. Kepemimpinan nasional yang salih berganti telah kita lalui namun kehidupan berbangsa dan bernegara menunjukkan timbul beragam masalah normal dan tidak normal yang mengarah pada posisi daur hidup yang terancam kedalam ketidak mampuan tumbuh dan berkembang, walaupun Negara kita kekayaan alam yang luar bisa.

Kebiasaan KKN dapat tumbuh dengan subur pada semua lapisan kegiatan, mengapa ? Itulah satu tantangan kepemimpinan masa depan yang tidak fokus memandang esensi manusia dalam pembangunan yang menjadi kunci kehancuran bangsa yang dipimpin oleh yang memiliki tingkat kesadran yang paling rendah yang kita sebut dengan mendewakan kesadaran indrawi.

Kunci penyelesaian masalah yang kita hadapi adalah terletak pada kita tidak memiliki konsepssi budaya yang bisa diterapkan sebagai pedoman formal untuk mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

BAB II MERUMUSKAN VISI MASA DEPAN

Sejalan dengan Visi dalam Sikap sebagai suatu pandangan yang dapat mempengaruhi tindakan kedalam organisasi formal yang
ditetapkan maka sebagai rumusan dari VISI MASA DEPAN dalam MEMBANGUN MASYARAKAT ENTREPRENEUR (KEWIRASWASTAAN) adalah kemampuan dari pengelola dalam usaha memainkan peran yang bermoral, berkualitas, produktif dalam membangun CITRA, BUDAYA, ARAH, TUJUAN sebagai berikut :

CITRA adalah wujud sikap yang berkemampuan mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar dapat dilaksanakan yang terbaik sesuai kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan tuntutan paradigma abad 21.

BUDAYA adalah wujud sikap yang berkemampuan mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar ia menjadi alat untuk menumbuh kembangkan kolaborasi dalam gaya kepemimpinan.

ARAH adalah wujud sikap yang mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders agar ia dapat memberikan arah pelaksanaan pembangunan diklat. berjalan secara berkesinambungan.

TUJUAN adalah wujud sikap yang mengkomunikasikan suara hati kepada stakeholders dari yang tidak tahu menjadi tahu untuk mewujudkan nilai tambah dalam menjalankan setiap peran.

Secara singkat pernyataan VISI Dalam Membangun Masyarakat Entrepreneur adalah Membangun CITRA dalam pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan dengan BUDAYA sebagai alat menumbuh kembangkan kolaborasi dan gaya kepemimpinan dengan ARAH pelaksaan diklat. berkesinambungan dengan TUJUAN mewujudkan nilai tambah dalam menjalan setiap peran.

BAB III. MERUMUKAN MISI MASA DEPAN :

Bertitik tolak dari pernyataan VISI diatas, maka perlu suatu pemikiran untuk merumuskan langkah menyiapkan sarana sebagai alat untuk mengadakan perjalanan yang kita sebut pernyataan MISI dengan memanfaatkan proses berpikir yang kita sebut MEMPERHATIKAN, MEMBIMBING, ANALITIS dan EKSPRESIF yang dapat menjadi penuntun kedalam kejelasan, intensitas dan kesatuan dalam mewujudkan visi :

MEMPERHATIAKAN adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai keseimbangan kepentingan yang diterima oleh stakeholder.

MEMBIMBING adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam usaha-usha mendorong bahwa komitmen harus tumbuh dan berkembang bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar melainkan datang dari dalam diri sendiri.

ANALITIS adalah pikiran yang menunjukkan misi kita dalam pemanfaatan proses berpikir yang bersifat strategik dan peka denan lingkungan yang selalu berubah sehingga diperlukan kesiapan melaksanakan antisipasi.

EKSPRESIF adalah pikiran yang menunjukkan misi kita kedalam pemberdayaan sumber daya manusia dalam kesiapan perubahan masyarakat Industri ke masyarakat Informasi ke masyarakat Pengetahuan dalam dunia tanpa batas

Secara singkat pernyataan Misi Masa Depan adalah sarana mewujudkan mimpi menjadi kenyataan melalui proses berpikir dengan kekuatan MEMPERHATIKAN, MEMBIMBING, ANALITIS DAN EKSPRESIF kedalam kebersamaan keyakinan.

BAB IV. MERUMUSKAN TUJUAN MASA DEPAN
DAN AZAS PENDIRIAN

Bertitik tolak dari pernyataan VISI dan MISI diatas sebagai jabarannya yang kita sebut dengan TUJUAN MEMBANGUN MASYARAKAT ENTREPRENEUR SECARA KUALITATIP adalah :

• Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dalam penigkatan kompetensi yang sejalan dengan kebutuhan pemain peran.

• Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan keterampilan yang sejalan dengan kebutuhan pemain peran

• Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia sebagai sarana pembelajaran jarak jauh.

• Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan kemampuan sendiri dan atau peran pihak ketiga untuk menyiapkan modul-modul yang berkaitan dengan kebutuhan dalam pelatihan.

• Membangun unit kerja kedalam pusat pendidikan dan pelatihan dengan kemampuan sendiri dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga dalam usaha pendidikan formal yang terintergrasi dari TK s/d Pendidikan Tinggi khusus entrepreneur

Dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai diatas, harus pula dirumuskan secara jelas hal-hal yang berkaitan dengan landasan yang bertumpu pada AZAS-AZAS apa yang disebut dengan :

• Azas profesionalisme yang menunjukkan kunggulan dalam memberikan pelayanan atas penyelenggaraannya.

• Azas inopatip yang menunjukkan kemampuan terus menerus mencari cara baru untuk membuat infrastruktur yang lebih bermanfaat bagi yang berkepentingan.

• Azas antisipatip yang menunjukkan kemampuan penyesuaian antara kecepatan perubahan lingkungan dengan kecepatan tanggapan manusia yang terbatas.

• Azas keterpaduan dalam melaksanakan infrastruktur dalam lingkaran pusat dan daerah

• Azas keserasian antara kepentingan pusat, daerah dan multimedia.

• Azas keterbukaan yang dapat memberikan dorongan dari kepentingan stakeholders.

BAB. V MERUMUSKAN SASARAN MASA DEPAN

Merumuskan tujuan yang berifat kualitatif menjadi SASARAN dalam jangka lima tahun sebagai recana jangka panjang yang dijabarkan secara kuantitataip yang disusun berdasarkan kelayakan untuk masing-masing tujuan yang hendak di capai dengan memperhatikan kebutuhan yang sesuai dengan realita.

Selanjutnya sasaran tersebut dijabarkan kedalam rencana pelaksanaan tahunan yang didasarkan pengkajian ulangan sebagai suatu kebutuhan yang benar-benar dapat direalisasikan yang sejalan dengan sumber daya yang tersedia baik yang kita miliki maupun atas dasar kerja sama.
BAB VI. MERUMUSKAN STRATEGI MASA DEPAN

Untuk merealisasi sasaran tersebut diatas, maka diperlukan seperangkat strategi yang perlu digariskan dengan merubah pola pikir secara radikal artinya melaksanakan perubahan dari berpikir vertical menjadi lateral dengan rumusan strategi sbb.

• Stategi performansi adalah suatu strategi yang selalu memfokuskan perubahan sikap positip dan perilaku asertif dalam mengaktualisasikan diri yang kiblat kepada prestasi yang di ridhoi oleh Allah Swt, bukan kepada manusia dalam kepentingan kelompok dan individu.

• Strategi produktivitas adalah strategi yang terkait pemecahan maalah melalui pendekatan system terbuka dengan aktualisasi secara kaffah dengan prinsip peningkatan effiseinsi, efektif dan kualitas.

• Stratetegi akuntabilitas adalah strategi yang menekankan adanya kesadaran untuk setiap aktivitas yang dilaksanakan mampu memberikan pertanggungan jawaban secara terbuka kepada stakeholders.

• Strategi kolaborasi adalah startegi dalam dunia tanpa batas untuk melakukan kolaborasi dalam memanfaatkan sinergi untuk memaksimumkan peluang-peluang masa depan engan tersedianya sumber daya yang terbatas.

Keempat strategi yang dikemukakan diatas, maka dalam mengaktualisasikan harus dilakukan secara parallel dan tidak terpisah-pisah sehingga makna pemberdayaan dalam arti menghilangkan birokratis dapat dicapai, itu berarti keterampilan, pengalaman, energy dan ambisinya dapat digunakan mereka untuk menembangkan suatu perasaan memiliki bagian-bagian dari proes, khususnya menjadi tangung jawab mereka, sementara pada waktu yang sama menerima semua tanggung jawab.

BAB VII. MERUMUSKAN KEBIAJKASANAAN
DAN BUDAYA MASA DEPAN

Stratigi tersebut diatas dijabarkan kedalam lankah-langkah pelaksanaannya apa yang disebut seperangkat kebijaksanaan sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan yang mencakup :

• STRATEGI PERFORMANSI dijabarkan kedalam apa yang disebut system manajemen kinerja yaitu 1) Kebijakan dalam kepentingan stakeholders dan inputnya ; 2) Kebijakan penilaiannya pada proses ; 3) Kebijakan perhatian pada output ; 4) Kebijakan pengukuran dan penilaian kinerja

• STRATEGI PRODUKTIVITAS dijabarkan kedalam apa yang disebut peningkatan nilai tambah yaitu usaha 1) Memaksimumkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dan dapat diraba ; 2) Memaksimumkan sumber daya yang tidak dapat diraba seperti ilmu dan pengetahuan 3) Memaksimumkan penguasaan informasi.

• STRATEGI AKUNTABILITAS dijabarkan dengan apa yang disebut sistem keterbukaan mencakup apa yang disebut dengan 1) Komunikasi ; 2) Kepatuan kepada aturan ; 3) Penguasaan pengetahuan ; 4) Pengelolaan yan baik.

• STRATEGI KOLABORASI dijabarkan dengan apa yang disebut membuat tempat kerja kolaboratif mencakup 1) Budaya kolaboratip ; 2) Proses team kolaboratif ; 3) Struktur kolaborati

PROPOSAL

MEMBANGUN MASYARAKAT ENTREPRENEURSHIP
MELALUI LOMPATAN BERPIKIR MASA DEPAN

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Setiap bangsa memiliki peluang untuk memanfaatkan peran entrepreneur (wirausaha) dalam kebiasaan yang produktif untuk meningkatkan nilai tambah sebagai kunci kemakmuran.

Yang menjadi masalah dalam membangun masyarakat bangsa Indonesia kedalam suatu konsep yang berbudaya memerlukan suatu pemikiran entrepreurship (kewirausahaan) sebagai arah persfektif membangun bangsa Indonesia. Inilah yang tidak disadari oleh kepemimpinan masa kini untuk mengangkat peran wirausaha kedalam konsep kewirausahaan.

Setelah kita melewati abad 20, tanda-tanda daur hidup bangsa dan Negara memasuki perubahan dari stabil ke pnyakit dimana pemimpin orde baru menjalankan demokrasi sebagai alat merebut kekuasaan, sudah menjadi penyakit pula memasuki abad 21. Setelah kita mengumandangkan tumbangnya orde baru dan kita memasuki orde reformasi, penyakit tersebut bahkan dapat menentukan apakah kita saat ini sudah diambang pintu kematian birokrasi. Sadarkah mereka yang berperan sebagai eksekutif, legilatif, yudikatif dan pelaku ekonomi saat ini.

Kehancuran bangsa dan Negara bergerak begitu cepat sejalan dengan dampak perubahan lingkungan dunia, dimana semua peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemimpin masa kini berada dalam posisi tingkat kesadaran yang paling rendah dalam bersikap dan berperilaku yang diperlihatkan kedalam bentuk karekteristik materialistik, nampaknya sulit untuk melakukan perubahan kesadaran secara radikal.

Dengan situasi tersebut tidak heran sulitnya orang dapat menerima setiap langkah perubahan, sebagai contoh bagaimana kita bisa dapat melepaskan diri dari budaya KKN., sehingga dalam kehidupan terdapat golongan yang berusaha mempertahan status quo, maka kita akan lebih jauh lagi menyambut fajar menyingsing dalam dunia UKM dan Koperasi, hanya satu impian belaka.

Dalam situasi yang demikian, maka peran mereka tidak dapat diharapkan lagi untuk berbuat banyak misalkan memberikan lapangan kerja baru yng setiap tahun terus meningkat jumlah pengangguran dimana-mana. Bahkan mereka meluncurkan kebijakan privatisasi yang disarankan oleh bank dunia yang sangat popular itu sebagai satu cara untuk melarikan diri dari sikap kepekaan terhadap jajahan pihak ketiga dan tidak jarang kekuasaan politik dijadikan alat bagi mereka dalam usaha untuk menghancurkan bangsa dan Negara ini.

Gambaran diatas juga ingin dikemukakan disini bahwa dalam abad 20 bangsa dan Negara dalam birokrasi dikuasai oleh peran kekuasaan politik, maka saat memasuki abad 21 telah terjadi pergeseran birokrasi menjadi kewirausahaan, terbukti ada daerah yang dipimpin oleh seorang entrepreneur, menunjukkan adanya perubahan dalam kemajuan daerah. Jadi untuk membangun bangsa dan Negara ini maka peran mesin wirausaha haruslah dijadikan suatu strategi dalam pembangunan.

2. MEMBANGUN KEBERSAMAAN VISI DAN MISI

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka diperlukan satu keputusan strategic dalam rangka menyatukan kesamaan pola pikir dalam mewujudkan betapa pentingnya keberadaan kewiraswastaan dalam pembangunan bangsa.

Sejalan dengan pikiran diatas, agar ia dapat memberikan inspirasi untuk keberhasilan dalam mewujudkan kebersamaan “Visi dalam bersikap” disatu sisi dan disisi lain dalam “Misi dalam berperilaku”.

Oleh karena itu, perlu diumuskan “Visi dalam bersikap” sebagai satu kekuatan daya dorong agar perencanaan, pengorganisasian, pelakanaan dan pengawasan berjalan sesuai dengan arah yang hendak dicapai, maka KEBERAMAAN VISI DALAM BERSIKAP adalah suatu pernyataan untuk membangun CITRA yang sejalan dengan paradigm abad 21 dengan BUDAYA perubahan berpikir dengan ARAH membangun wawasan dan imajinasi dalam mewujudkan TUJUAN kebersamaan untuk meningkatkan kreativitas individu dan kelompok menjadi inovasi oraganisasi yang berkesinambungan.
Sedangkan KEBERSAMAAN MISI DALAM BERPERILAKU sebagai pernyataan yang menggambarkan sarana sebagai alat untuk mengadakan perjalanan, dirumuskan adalah menunjukkan misi kita dalam berperilaku kedalam BERPIKIR LATERAL yang sejalan dengan paradigm abad baru dengan melaksanakan KPEMIMPINAN KOLABORATIF untuk memanfaatkan sumber daya terbatas dengan penguasaan TEKNOLOGI INFORMASI dalam melaksanakan pembangunan bangsa yang BERWATAK.

Bertolak dari kebersamaan pikiran diatas agar dapat menyesuaikan dengan paradigm abad baru, maka diperlukan perubahan pola pikir yaitu menghindari dari masalah bukan memecahkan masalah. Sejalan dengan pemikiran tersebut maka sebagai isu kebijakan dapat dirumuskan sebagai berikut :

“Konsepsi dari demensi sumber daya manusia dalam pembangunan adalah usaha untuk mewujudkan pembentukan dan pembangunan sumber daya manusia yang seutuhnya dalam arti berkualitas dan berwatak” Jadi issu tantangan masa depan yaitu mencakup :

Pertama, adalah terkait dengan manusia selaku anak didik yang tidak mendapatkan keprcayaan diri untuk mandiri, terbatasnya kemampuan pemberdayaan otak, kebebasan dalam berpikir, pengembangan budaya yang tidak sejalan dengan kebangkitan kepribadian yang utuh, yang berdampak langsung kehidupan mereka dalam masyarakat.
Kedua, adalah terkaitdengan peluang masa depan yang tidak pasti sebagai dampak dari faktor internal dan ekternal yang tidak mampu memberikan daya dorong kepada pelaku untuk secara berkolaborasi dalam “empowering people”

3. PERUBAHAN SECARA KONSEPSIONAL

Di awal pemikiran kita yang menjadi tantangan adalah apakah kita mampu berubah untuk berpikir keluar dari kerangka reaktif menjadi proaktif. Bila ketetapan hati, konsentrasi dan keabaran kita ada, maka terbentanglah keinginantahuan untuk berubah menjadi sederhna karena disitu terletak kepercayaan diri kita menjadi sederhana karena disitu terletak kepercayaan diri kita menyatu bahwa setiap persoalan baik normal maupun tidak normal didalamnya terdapat pemecahannya.

Dengan memperhatikan pokok persoalan, maka sebagai pendekatan dalam rangka pemecahan masalah kritis yang telah dirumuskan itu dengan suatu PENDEKATAN SISTEM untuk melakanakan kebersamaan VISI DAN MISI diperlukan adanya prinsip-prinsip transformasi agar perubahan MINDSET berjalan dalam keamaan pola dan bertindak berlandaskan satu kemitraan dan komitmen menjadi keputusn strategic agar dapat dilaksanakan sbb.:

• Berasumsi akan terjadi perubahan sikap dan perilaku sejalan dengan kesiapan untuk menerima perubahan itu sendiri.
• Setiap perubahan dimana orang-orang yang terlibat lebih mempercayai apa yang dilakukan, bukan apa yang dikatakan.
• Sebanyak mungkin orang-orang yang terkena pembaharuan terlibat dalam melaksanakan, ini berarti akan memberikan motivasi dalam kebersamaan.
• Lakukan segala sesuatu aktivitas dalam proses yang tidak tergesa-gesa karena perilaku yang reaktif lambat tapi proaktif.
• Laksanakan perubahan yang sejalan dengan tingkat kebutuhan permasalahannya artinya mnyelesaikan pondasinya lebih dahulu, baru melangkah ke masalah berikutnya.
• Setiap pembaharuan melalui proses transformasi bukanlah waktu yang sekejab, oleh karena itu diperlukan keabaran dan keuletan bagi semua pihak yang berkepentingan.
• Setiap pembaharuan, maka kemajuan dalam perubahan akan sejalan dengan setiap permasalahannya sehingga perubahan adalah teratur dan berfungsi secara mandiri dari perubahan itu sendiri.

Dengan memperhatikan pokok pikiran diatas, maka setiap peran dalam STAKEHOLDERS harus mampu memberikan konstribusinya dalam memecahkan keseimbangan kepentingan yang menjadi tumpuan dalam berbangsa dan bernegara, tanpa keadaran itu sangat sulitlah ia sebagai alat perjuangan dalam pemecahan kesenjangan yang makin meluas.

4. RUANG LINGKUP DAN SISTIMATIK PENULISAN

Usaha-usaha membangun masyarakat entrepreneurship melalui lompatan berpikir dengan gagasan pengembangan kreatifitas dan inovasi kedalam dunia usaha baru, diperlukan RENCANA INDUK sebagai pedoman dalam mewujudkan keputusan strategic yang ditetapkan.

RUANG LINGKUP

Merumuskan pemikiran strategic disini bertolak dari suatu kebiasaan berpikir dengan memanfaatkan kekuatan berpikir yang bersifat intuitif artinya dalam hal ini tidak perlu suatu analisa yang melahirkan pemikiran yang sistimatik melainkan menekankan pemikiran non-metodis yang berlandaskan intuisi.

Merumuskan Pemikiran Rencana Jangka Panjang menuju ke Arah yang menggambarkan kemampuan dalam mewujudkan arah persfektif diatas, kita harus mampu dengan sumber daya terbatas memanfaatkan peluang yang ada kedalam kurun waktu 10 tahun dalam gambaran 2015 s/d 2025.
SISTIMATIK PENULISAN

Rencana buku induk akan mencakup keputusan strategic sebagai landasan untuk merumuskan dari jangka panjang menuju ke arah ke persfektif 10 tahun dengan sistimatik penulisan sbb.:

Bab I. Pendahuluan
Bab II. Merumuskan VISI masa depan
Bab III. Merumuskan MISI masa depan
Bab IV. Merumuskan TUJUAN masa depan
Bab V. Merumuskan SASARAN masa depan
Bab VI. Merumuskan STRATEGI masa depan
Bab VII. Merumuskan BUDAYA dan KEBIJAKSANAAN masa depan

Bertitik tolak dari keputusan strategic diatas, sebagai landasan untuk merumuskan RENCANA JANGKA MENENGAH PERTAMA 2015 S/D 2020 (5 tahun) dengan menggambarkan secara kualitatif dan kuantitatif dengan SISTIMATIK PENULISAN sbb.:

Bab I. Pendahuluan
Bab II. Menjabarkan VISI dan MISI
Bab III. Menjabarkan TUJUAN dan SASARAN
Bab IV. Membangunan kepemimpinan dan organisasi
Bab V. Membangun Tim yang benar2 mampu bekerja
Bab VI. Menjabarkan Strategi yang ditetapkan
Bab VII. Menjabarkan Kebijaksanaan
Bab VIII. Menjabarkan pengelolaan berbasiskan budaya
Bab IX. Menjabarkan kebutuhan sarana dan infrastruktur
Bab XII. Menjabarkan silabus kebutuhan kewiraswastaan
Bab XIII. Membuat proyeksi anggaran yang dibutuhkan

Bertolak dari Rencana Jangka Menengah pertama diatas, lebih lanjut dirumuskan kedalam recana tahunan secara terperici sesuai dengan sistimatik penulisan diatas.